|
Metro
Sistem Telemetry, Bantu Evakuasi Dini menghadapi Banjir
Senin, 29 November 2004 | 18:07 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Proyek Pengendalian Banjir dan Pengamanan Wilayah Pantai Ciliwung Cisadane menerapkan Sistem Telemetry untuk memantau dan memberikan peringatatan dini terhadap banjir. Menurut Djaya Sukarna Asisten Teknik Proyek Pengendalian Banjir dan Pengamanan Pantai Ciliwung Cisadane kepada wartawan, Telemetry memberikan peringatan dini banjir dapat dilakukan secara cepat, tepat, meyeluruh dan terus menerus.
Telemetry ini merupakan nama keren dari Flood Forecasting and Warning System (FFWS). Sebelum FFWS seringkali terjadi keterlambatan evakuasi karena masih sangat bergantung pada personil di lapangan. Petugas melaporkan lewat radio/telephone, komunikasi antar jajaran, peringatan evakuasi sehingga akibatnya keterlambatan evakuasi. Sekarang dengan FFWS dapat memberikan realtime data collection, yang langsung diproses dan disebar secepatnya lewat internet sehingga evakuasi lebih dini bisa dilakukan.
Djaya menjelaskan, untuk menekan dampak negatif dari banjir pihaknya sudah mengoperasikan 22 posko banjir
di mana setiap poskonya terdiri dari 4 petugas pemantau, yang secara terus-menerus memantau tingkat curah hujan di lokasi posko, dan tinggi permukaan di lima sungai yang mengaliri kawasan Jabodetabek, seperti Kali Sunter, Kali Ciliwung, Kali Pesanggrahan, Kali Cisadane, dan Kali Bekasi.
Dari posko – posko itulah, nantinya informasi tentang curah hujan dan tinggi permukaan air, dilaporkan ke posko utama yang berada di kantor Proyek Pengendalian Banjir dan Pengamanan Pantai Ciliwung Cisadane di Kawasan Kalimalang, melalui gelombang frekwensi radio, dan di-upgrade secara komputerisasi, setiap satu jam sekali jika dalam kondisi biasa, dan per 15 menit pada kondisi siaga I, data yang sudah di-upgrade itulah akan diinformasikan kepada masyarakat maupun petugas yang berada di daerah rawan banjir seperti tim SAR, "Sistem inilah yang kita namakan sebagai sistem telematrik atau system peringatan dini,”ujarnya.
Sistem ini kata dia, merupakan bagian dari sejumlah rangkaian dari system pengendalian banjir, yang terbagi dalam dua bagian yaitu secara struktural maupun non struktural. Dimana secara struktural, pengendalian banjir dilakukan melalui pembangunan sarana dan prasarana fisik, yang antara lain membuat saluran pengelak di 3 lokasi (Banjir Kanal Barat, Cakung drain, Cengkareng Drain), membuat bendungan, membuat polder dan stasiun pompa, serta melakukan normalisasi sungai.
Sedangkan secara non struktural urai dia, dilakukan dengan cara pengembangan jaringan informasi dan komunikasi, antara lain dengan melakukan penyuluhan, System telematrik, dan pelatihan evakuasi.
Djaya menyampaikan sistem Telemetry memberikan manfaat banyak karena memberikan data yang dikumpulkan secara realtime. Selain itu input data tersebut sudah terkomputerisasi sehingga dapat langsung diolah dan disimpan dalam database. "Kelebihan lainnya mengurangi ketergantungan personil yang artinya memperkecil pengaruh human error, dan dapat dipantau secara terus-menerus dan menyeluruh," ungkapnya.
Dia juga mengatakan, keberhasilan dalam pelaksanaan system telematrik , harus ditunjang dengan kebijakan dalam organisasi yang akan memanfaakan dan mengembangkan system telemetri, seperti kerjasama yang baik antara instansi pemerintah, peran serta masyarakat, LSM dan media massa. Masyarakat yang ingin ikut memantau juga dapat mengakses website: www26.Brinkster.com/cilcis.
Agus Supriyanto--Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|