Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Iptek  
  Internasional  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Sarwono: Setiap Wilayah Harus Memiliki Pengolahan Sampah Canggih
Jum'at, 26 November 2004 | 18:51 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) DKI Jakarta, Sarwono Kusumaatmaja, berharap Indonesia memerlukan sistem penanganan sampah yang sangat cangih. Sehingga tidak akan mengganggu kenyamanan masyarakat yang ada disekitarnya.

"Yang paling baik setiap wilayah administrasi memiliki sistem pengolahan sampah sendiri dan secara modern," kata Sarwono seusai pertemuan dengan Gubernur DKI Jakarta di Balikota, Jumat (26/11). Sarwono menyayangkan terlambatnya tindakan pemerintah dalam penggunaan tekhnologi canggih untuk mengolah sampah. Sebenarnya, kata Sarwono banyak sekali alternatif solusi tekhnologi tinggi untuk pengolahan sampah.

"Pada waktu itu (jaman Emil Salim dan ketika saya menjadi menteri lingkungan hidup), tak ada yang tertarik untuk mengadopsinya. Mereka masih terpaku dengan tekhnik lama, " ujar Sarwono. Jika teknik itu dilakukan, lanjut Sarwono, maka tidak akan terjadi permasalahan mengenai sampah seperti yang terjadi belakangan ini. "Solusi pengolahan sampah tekhnologi tinggi sudah lazim dilakukan dimana-mana, "ujarnya.

Sarwono mencontohkan tentang pengolahan sampah yang ada di Canada dan London. Di Canada, kata Sarwono terdapat Tempata pembuanagan akhir (TPA)sampah yang bersebelahan dengan kantor wali kota. Bahkan terdapat apartemen dan perkantoran yang dindingnya terbuat dari sampah olahan. "Disana tidak ada masalah, semuanya sudah begitu. Mau alternatif apalagi? Ada yang bilang sistem daur ulang, tapi itu musti 30 tahun. Itupun kalau masyarakat sudah sadar, mau nunggu selama itu, " ujarnya.

Menanggapi tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) Bojong, Bogor, Jawa Barat, yang hingga saat ini masih ditolak oleh warga, Sarwono mengatakan Pemerintah Daerah (Pemda) harus bersikap transparan dan menjelaskaan kepada masyarakat sehingga mereka mengerti. "Saya tanya ke Pemda, komunikasi kalian bagaimana, kenapa setiap ada satu kebijakan selalu timbul masalah?," kata Sarwono.

Menurutnya, dalam hal ini DKI hanya berperan sebagai rekanan saja. DKI harus berani untuk memulai, karena setiap perubahan pasti menciptakan kontroversi. "Bojong itu urusan investor dan pemdanya. DKI hanya rekanan Bogor yang diberikan fee tertentu. DKI harus berani, yang penting jangan korupsi dan kebijakannya harus dipahami, " kata Sarwono.

Suryani Ika Sari-Tempo

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Organda dan Kopersi Bajaj Tetap Menolak Kancil
Pemkot Jakarta Pusat Akan Libatkan Kampus Tertibkan PKL
PKL Tanah Abang Belum Tentukan Sikap
Gubuk-Gubuk Liar di Jembatan Besi Dibongkar
Hari Ini Pansus DPRD DKI ke Pasar Tanah Abang
Kapolri : Berkaitan Pelanggaran HAM di Bojong Kapolwil Bogor Akan Ditindak
Pedangang Tanah Abang Unjuk Rasa Di Depan Gedung DPRD DKI Jakarta
Sutiyoso Pastikan Proyek Sampah Bojong Jalan Terus
Otopsi Ulang Munir Tak Ada Gunanya
LSM Desak Pemerintah Tutup TPST Bojong
> selengkapnya...


Referensi

Konflik Sampah, Lemahnya Manajemen Persampahan
Kompos, Salah Satu Jalan Keluar Problem Sampah
Reusable Sanitary Landfill, alternatif pengolahan sampah Jakarta
> selengkapnya...

Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [1]


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< November,2004>>
MSnSl RK JS
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data