|
SMP N 56 Melawai
Sajak Prihatin Titi Qadarsih
Kamis, 25 November 2004 | 12:19 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Tindakan yang diambil pemerintah DKI Jakarta terhadap SMPN 56 Melawai, menurut senima Titi Qadarsih, adalah hal yang memalukan. "Seharusnya sebagai warga negara Indonesia, anak-anak punya hak sarana pendidikan yang layak,"kata alumnus sekolah itu.
Menurut Titi Qadarsih, pembiaran terhadap nasib para siswa tersebut merupakan hal yang tidak manusiawi. "Ini kekerasan terhadap anak Indonesia,"katanya dalam kunjungan ke lokasi belajar SMP 56 Melawai di depan pelataran gedung eks-BDNI di bilangan Jalan Raya Melawai pagi tadi (25/11).
Menurutnya, pemerintah tak seharusnya menyepelekan keberadaan siswa-siswa didik ini. "Seharusnya kita malu, mereka adalah calon pemimpin bangsa esok,"ujar Titi.
Berkenaan dengan penyelesaian SMP 56 Melawai, Titi mengatakan, tetap akan konsisten memperjuangkannya. "Bila lewat depan tak bisa, saya akan coba pintu belakang,"ujarnya. Ia akan menggerakkan para kolega dan pihak yang berkepentingan dengan nasib siswa sekolah itu.
Saat itu juga Titi membacakan sebuah tulisan karyanya sebagai ekspresi yang menimpa anak didik SMPN 56 Melawai, inilah sajaknya :
Kemelut SMP 56 Melawai
Anak Bangsa,
Sebagai warga negara Indonesia punya hak!
Ditempatkan seperti itu!
Dibuang seperti itu!
Mereka yang berseragam
Seperti perang jaman dulu
Menduduki paksa daerah pendidikan
Yang harusnya dilestarikan
Menjadi terlihat ganas!
Dibuang-dilempar bangku-bangku sekolah itu
Keji tak manusiawi menghadang anak-anak
Dilarang masuk kecuali trantib!
Mereka dibuang di emperan
Antara panas terik dan basah kehujanan
Anak-anak bertahan
Telah terganggu kesehatan, telah mengusik konsentrasi belajar
Nurani menjadi jauh dari orang-orang dewasa yang kuat
Baik itu gubernur, aparat polisi, trantib
Seakan hanya mereka yang punya hak warga negara Indonesia
Hak anak tereksploitir, secara tepat strategis
Kemudian sarana, kualitas pendidikan jadi tak penting
Bendera-bendera kekuasan tanpa etika budaya ada dimana-mana
Lahan aman tersisa cuma 1 centimeter
Kertas namanya undang-undang manusia untuk tertindas
Dianggap \"paling absah\" untuk perilaku apa saja
Keppres-inpres-ingub-intrantib
Lalu kemana lagi?
Kunci-palang-pentungan dan mata nanar menunggu sampai larut
Anak-anak terus belajar...
Jujur, mereka bukan penjahat
Waktu berjalan sama
\"Manusia\" mengubah membara
Titi Qadarsih, 25 November 2004
Rinaldi Dorasman
INDEKS BERITA LAINNYA :
|