|
Metro
Kesia-siaan Di TPST Bojong
Selasa, 23 November 2004 | 17:27 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Peneliti dan Ahli Lingkungan Badan Pengkajian dan Pengembangan Tekhnologi (BPPT) H.B Henky Sutanto menilai Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di Bojong, Bogor sebagai sebuah kesia-siaan. Proses memusnahkan sampah yang 80 persen melalui tungku pembakaran incenerator dinilai hanya akan membuang-buang uang mengingat harga incinerator yang sangat mahal dan berbahaya.
Henky menyebutkan negara tetangga seperti Singapura, dengan total produksi sampah 3000 ton per hari saja membutuhkan dua incenerator seharga Rp.4,3 triliun perbuah. Sementara Jakarta, menghasilkan sampah perharinya 6000 ton. "Berapa triliun yang kita butuhkan untuk membakar sampah?" kata Henky.
Di TPST Bojong, sampah akan diolah menggunakan teknologi ball press di lahan seluas 35 hektar. Dengan teknologi itu, sampah akan dipisah antara sampah organik dan non-organik. Sampah organik akan di-press (agar air lindi keluar), lalu sampah keringnya dimasukkan ke dalam plastik khusus yang kemudian digulung menggunakan plastik.
Tekhnologi yang berasal dari Jerman itu akan melalui tiga proses pengolahan sampah. Pertama, sistem ball press, kedua, incenerator, dan ketiga, pengolahan air lindi dengan sistem fermentasi.
Salah satu dampak pembakaran sampah adalah dioksin, yaitu ratusan jenis senyawa kimia berbahaya seperti CDD (chlorinated dibenzo-p-dioxin), CDF (chlorinated dibenzo furan), atau PCB (poly chlorinated biphenyl).
Jika senyawa yang berstruktur sangat stabil itu hanya dapat larut dalam lemak dan tidak dapat terurai jika ini bocor ke udara dan sampai kemudian dihirup oleh manusia maupun hewan melalui udara. Dioksin akan mengendap dalam tubuh, yang pada kadar tertentu dapat mengakibatkan kanker.
Menurut Henky, sebenarnya, ada cara murah dan mudah untuk mengatasi persoalan sampah di Jakarta. Caranya dengan merehabilitasi TPA Bantar Gebang dan kemudian menerapkan sistem Reusable Sanitary Landfill (RSL) yaitu sebuah sistem pengolahan sampah yang berkesinambungan dengan menggunakan metode Supply Ruang Penampungan Sampah Padat.
RSL diyakini Henky bisa mengontrol emisi liquid, atau air rembesan sampai sehingga tidak mencemari air tanah. Yang kedua, sistem ini mampu mengontrol emisi gas metan, karbondioksida atau gas berbahaya lainnya akibat proses pemadatan sampah. RSL juga bisa mengontrol populasi lalat di sekitar TPA. Sehingga mencegah penebaran bibit penyakit.
Cara kerjanya, di RSL, sampah ditumpuk dalam satu lahan. Lahan tempat sampah tersebut sebelumnya digali dan tanah liatnya dipadatkan. Lahan ini desbut ground liner. Usai tanah liat dipadatkan, tanah kemudian dilapisi dengan geo membran, lapisan mirip plastik berwarna yang dengan ketebalan 2,5 milimeter yang terbuat dari High Density Polyitilin, salah satu senyawa minyak bumi.
Lapisan ini lah yang nantinya akan menahan air lindi (air kotor yang berbau yang berasal dari sampah), sehingga tidak akan meresap ke dalam tanah dan mencemari air tanah. Di atas lapisan geo membran dilapisi lagi geo textile yang gunanya memfilter kotoran sehingga tidak bercampur dengan air lindi. Secara berkala air lindi ini dikeringkan.
Sebelum dipadatkan, sampah yang menumpuk diatas lapisan geo textille ini kemudian ditutup dengan menggunakan lapisan geo membran untuk mencegah menyebarnya gas metan akibat proses pembusukan sampah (yang dipadatkan) tanpa oksigen.
Geo membran ini juga akan menyerap panas dan membantu proses pembusukan. Radiasinya akan dipastikan dapat membunuh lalat dan telur-telurnya di sekitar sampah. Sementara hasil pembusukan sampah dalam bentuk kompos bisa dijual.
Gas metan ini juga yang pada akhirnya digunakan untuk memanaskan air hujan yang sebelumnya ditampung untuk mencuci truk-truk pengangkut sampah. Henky yakin jika truk sampah yang bentuknya tertutup dicuci setiap kali habis mengangkut sampah, tidak akan menebarkan bau ke lokasi TPA.
Pengolahan sampah dengan sistem ini sebenarnya sama saja dengan yang sudah dilaksanakan TPA Bantar Gebang. Hanya saja, pada Zona I TPA Bantar Gerbang, ground liner tidak menggunakan geo membran untuk menahan air lindi. Dan terjadi kebocoran yang menyebabkan pencemaran air serta pencemaran udara.
Jika, TPA Bantar Gebang direhabilitasi kemudian pola pengolahannya digantikan dengan RSL, pemerintah daerah Jakarta, menurut Henky tidak perlu mencari lokasi baru untuk menampung sampah. Karena sampah dapat diolah secara berkesinambungan dan sistem di ground liner bisa diperbaiki secara berkala.
Fitri Oktarini-Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|