|
Konflik Sampah
Bojong Rusuh, Tujuh Orang Ditembak
Senin, 22 November 2004 | 13:15 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Sekitar 2000 massa dari tujuh desa di sekitar kawasan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bojong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat mengamuk. Massa merusak serta membakar semua bangunan di areal tersebut.
Sejak pukul 10.00 WIB massa mulai menyerbu pintu gerbang pabrik kemudian mereka merusak dan membakar pos penjagaan, sebagian massa terus merusak mess putra, mess putri kemudian gudang dan Kantor Personalia. Situasi makin tidak terkendali setelah ratusan massa terus melakukan pembakaran.
Puluhan aparat kepolisian yang diterjunkan di lokasi tidak sanggup menahan serbuan massa. Massa terus mengamuk dan mulai merusak delapan unit mobil termasuk mobil polisi. Tujuh orang terluka diterjang senjata api polisi. Belasan lainnya terluka terkena lemparan batu polisi. Polisi juga menjaga lokasi menghindari massa ke arah timur pabrik. Situasi makin tidak terkendali, massa dengan leluasa membakar dan merusak semua yang ada di lokasi pabrik.
Pukul 12.30 WIB bantuan baru tiba, karena terhambat jalan yang diblokade sepanjang tiga kilometer. Saat ini, aparat keamanan sudah berhasil mengatasi situasi di TPST Bojong, bahkan belasan warga yang ikut aksi kerusuhan ditangkap. Dua di antaranya Oman, 25 tahun, dan Abu Bakar. Mereka ditembak saat bersama warga lain merangsek ke dalam pabrik pengolah sampah.
Alasan polisi menembak, warga tersebut hendak melakukan perusakan mobil berikut fasilitas pabrik. Satu mobil polisi sempat digulingkan. Seluruh korban tembak dirawat di Puskesmas Bojong, termasuk lima orang yang belum diketahui identitasnya.
Saat warga dan polisi bentrok, sempat terjadi saling lempar batu. Dari pihak warga belasan orang yang mengalami luka lemparan batu. Polisi mengamankan sebanyak 13 orang. Mereka ditangkap karena diduga sebagai provokator aksi warga. Sementara itu, polisi terus merazia warga yang membawa senjata tajam.
Konflik warga Bojong dengan PT. Wira Guna Sejahtera sudah berlangusung sejak tahun 2003. Warga setempat tak setuju daerahnya dijadikan tempat pembuangan sampai milik warga DKI Jakarta. Namun, pemerintah propinsi DKI Jakarta memaksakan kehendak. Bentrokan sudah sering terjadi. Bahkan warga Bojong sempat melemparkan sampah ke rumah Gubernur Sutiyoso sebagai simbol, agar sampah DKI Jakarta dibuang di daerahnya sendiri. Tapi, rupanya arogansi kekuasaan lebih dipentingkan dibandingkan suara rakyat kecil.
Deffan Purnama
INDEKS BERITA LAINNYA :
|