|
Bogor
Ditendang Kuda Bocah 9 Tahun Tewas
Sabtu, 20 November 2004 | 19:37 WIB
TEMPO Interaktif, Bogor:Akibat memukul pantat kuda, Helmi Mulyawan, 9 tahun, warga Jembatan Ledeng Muara RT 06/08, Pasir Jaya, Ciomas, Bogor ditendang kuda hinggal terpental. Insiden ini terjadi di alun-alun depan Mesjid Agung Ar-Thohiriah, Empang, Kota Bogor, Sabtu (20/11) pagi. Helmi tewas dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Jumli, pemilik kuda yang bernama Jerry itu, sengaja menyewakan kudanya untuk menjadi
tunggangan di alun-alun bagi anak-anak di masa lebaran ini. Dia menuturkan, ketika sejumlah bocah berebut naik naik kudanya, Helmi berada di belakang kuda. Sugiyanto, keponakan Jumli, yang membantunya, sudah memperingatkan agar Helmi menyingkir dari belakang kuda.
Namun, boca itu tak mendengarnya. Helmi malah menepuk pantat Jerry ketika
Sugiyanto menaikan salah satu bocah ke punggung kuda ini. Akibatnya, Jerry kaget dan langsung menedang ke arah belakang tepat mengenai dada Helmi. Anak kecil
lainnya menjerit-jerit ketakutan melihat Helmi yang terpental cukup jauh itu.
Setelah itu, Sugiyanto sempat menenangkan kuda dan memberikan bantuan kepada Helmi dengan cara memberikan napas buatan dan berhasil. Tetapi kemudian tubuh korban mengigil. Jumli berusaha mengantar korban ke klinik Dr Setiadi, tidak
jauh dari lokasi kejadian. Pihak klinik malah merujuk Helmi ke RSU PMI Bogor, namun sayangnya nyawa Helmi tidak tertolong. Polisi yang mendapat laporan ini langsung mengamankan Jumli dan kudanya di Markas Polsekta Bogor Selatan.
Di rumah korban, suasana sedih masih menyelimuti keluarga Titin Suprihatin. Ibu kandung Helmi ini terlihat terpukul setelah kehilangan anaknya. ini. Ia mendengar kabar buruk itu dari 9 orang teman Helmi yang ikut ke alun-alun. "Ibu. Helmi ditendang kuda," kata salah satu bocah ditirukan Titin.
Menurut Titin, anaknya sekitar pukul 08.30 pagi minta uang Rp 4.000, tetapi ditolak. Titin hanya memberi uang sebesar Rp 400. Karena kurang, Helmi nekad mengambil uang Rp 2.000, dari dompet ibunya, lalu ia pergi bersama 9 temannya ke alun-alun. Titin sempat melarang anaknya pergi, apalagi suaminya Anda sedang tidak ada di rumah.
"Kelihatannya Helmi ingin sekali naik kuda," ujar Titin. Ia tidak menyadari kalau anak pertama dari tiga bersaudara ini akan pergi selama-lamanya. Bahkan, sebelum pergi bocah
kelas 3 SDN Empang 1 minta sarapan. Padahal sejak kecil, kata dia, Helmi tidak pernah mau sarapan, bahkan sempat minta di suapin. "Tidak seperti biasanya ia manja
minta disuapin," ujar Titin sambil menyeka air matanya.
Deffan Purnama - Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|