|
Duka Parman Di Malam Takbiran
Minggu, 14 November 2004 | 19:39 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Sial nian nasib Parman. Semalam, mestinya menjadi malam takbiran yang meriah nan menghibur anak dan istrinya. Tapi yang terjadi justru nahas: gubuk tempat tinggal keluarga miskin ini dirubuhkan oleh aparat Ketentraman dan Ketertiban (Trantib), Jakarta Barat. Parman tak berdaya. Ia cuma bingung, cemas dan sementara istrinya cuma bisa meraung-raung. Sang istri itu masih tersedu-sedu hingga aparat trantib itu berpindah ke lain tempat.
Rumah reot milik Parman itu adalah satu dari puluhan rumah yang digusur aparat pada malam Takbiran semalam. Rumah-rumah berdinding kayu itu terletak di sepanjang Jalan Outer Ring Road, Cengkareng, Jakarta Barat. Selama setengah jam aparat merobohkan bangunan dan membakar bagunan liar dan gerobak milik segenap penghuninya. Dan warga cuma bisa pasrah. “Ya Allah, tega amat,” isak Ersianih saat melihat gubuk tempat tinggalnya dirobohkan.
Parman bersama keluarganya sudah empat tahun menetap di situ. Saban hari mereka memulung barang-barang bekas untuk dijual. Bersama lima karibnya , Parman mendorong gerobak sejak fajar menyinsing hingga petang. Gerobak itu bak nyawa bagi para pemulung ini, sebab tanpa gerobak barang-barang itu tidak bisa dibawa, tak bisa dijual, tak ada uang dan tak bisa makan. . Ersianih pilu hatinya melihat gerobak-gerobak milik mereka dilalap api, “Modal saya habis,”isaknya.
Dalam kebingungan terus mengamankan barang-barangnya. Pria berusia 43 tahun ini memelas, ”Lebaran kok gini?” Ketika Trantib hendak mengambil barang yang dikumpulkan Parman, sembari terisak Ersianih memohon, ”Yang itu jangan Pak, itu modal saya.” Modal yang disebut Ersianih itu adalah ban-ban dan kayu hasil pulungan yang siap dijual. Untung aparat trantib jatuh iba. “Modal” Ersianih tak jadi diambil.
Empat tahun meniti hidup gubuk reot itu, Parman tak menyangka kalau “kekalahan” datang tengah malam apalagi di malam takbiran, saat kemenangan harusnya dirayakan. Empat bulan lalu, Parman memang mau pindah. Tapi sebelum pindah, kisah Ersianih, mereka dipanggil pegawai kecamatan. Pegawai kecamatan itu meminta mereka membuat surat. Isi surat itu menyatakan bahwa selama lokasi gubuk Parman dan Ersianih belum dipakai untuk jalan, mereka tidak akan diutak-atik. “Saya punya suratnya, Mbak,” kata Parman pada Tempo malam itu.Dalam proses pembuatan surat ini, Ersianih mengaku sudah mengeluarkan uang 3 juta.
Sitindjak, Kepala Seksi Operasi Trantib Jakarta Barat, dalam kesempatan terpisah mengatakan bahwa memang ada pegawainya yang mengail di air keruh dalam kasus ini.
Yang lebih tragis adalah nasibnya Mbah Sono. Pria 82 tahun itu seorang diri tinggal di sebuah gubuk reot di kawasan ini. Sudah 10 tahun ia di situ. Dimakan usia badannya terlihat rapuh. Saat gubuknya dirobohkan, Mbah Sono cuma bisa termenung menatap tanah. Tak seperti warga lainya yang sibuk mengamankan barang, Mbah Sono seperti terpaku sebab tak ada harta yang perlu diselamatkan, walau cuma gerobak. Dulu ia mendirikan gubuk itu karena tak punya tempat tinggal, “Ketimbang kehujanan, saya bikin gubuk di sini,”tuturnya dengan wajah murung.
Sehari-hari Sono membuat arang dari kayu buangan. Pendapatannya sangat kecil, dalam waktu setengah bulan, ia cuma dapat menjual 1 karung arang. Harganya pun hanya Rp 20.000,-. Ia tidak punya satu orang kerabat pun di Jakarta. Setelah gubuknya rata dengan tanah, Sono tak tahu harus tinggal di mana. Anak pun ia tak punya.
Operasi penertiban pemukiman liar di sepanjang Jl. Outer Ring Road ini dilaksanakan mulai pukul 24.00 WIB sampai 02.00 WIB di hari pertama Idul Fitri 1425 H. Trantib Pemerintah Kodya Jakarta Barat yang dipimpin oleh Sitindjak, bergabung dengan Trantib Kecamatan Cengkareng. Dalam apel sebelum operasi, Wakil Camat Sengkareng, Rohali, memberi pengarahan bahwa target operasi penertiban malam itu adalah tempat mandi liar, tempat tidur liar, dan tempat pemulung. Jl. Outer Ring Road ini, menurut Rohali, adalah jalan menuju bandara. Banyaknya pemukiman liar ini, membuat kesan kumuh, tidak bagus dilihat. “Ini bukan kampung, tapi kota,” katanya.
Fanny Febiana----Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|