|
Pencari Zakat Hiasi Jalan-jalan Jakarta
Sabtu, 13 November 2004 | 12:51 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Selama dua hari menjelang lebaran Idul Fitri ini, jalan-jalan di Jakarta dihiasi ratusan orang yang mengaku sebagai pencari zakat fitrah. Mereka umumnya datang dari pinggiran Jakarta. Agak berbeda dengan para pengemis yang umumnya bertubuh kurus dan kotor, para peminta zakat yang kebanyakan kaum ibu ini rata-rata bertubuh gemuk dan berpakaian bersih.
Pantauan Tempo, puluhan orang berjejer di perempatan Jalan Sisingamangaraja, dekat Mesjid Al-Azhar dan Telkom. Mereka juga terlihat berjejer di depan pagar luar daerah pemukiman di jalan Metro Pondok Indah. Harapan mendapat zakat membuat mereka rela menunggu bahkan sampai menginap di tempat itu.
?Kami bukan peminta-minta, hanya menunggu pemberian zakat saja,?ujar Ningsih, 28, seorang pemulung yang mengaku dari Ciputat. Dari keterangannya ia bersama keluarga dan beberapa pemulung lain sudah sejak empat hari lalu berada di tempat ini.
Lain halnya dengan Joko, 37, seorang pemulung yang mengaku dari Pasar Jumat. Menurutnya baru Sabtu (13/11) sekitar pukul 08.00 ia datang bersama istri dan seorang anaknya. Dirinya mengaku datang ke Jakarta karena tergiur dari cerita kawan-kawan sesama pemulung lain. ?Zaman susah begin,i siapa yang tidak mau uang dan sembako gratis? Kami sangat perlu itu,? ujarnya.
Meskipun demikian ia mengaku belum mendapat zakat dari orang yang lewat. Istrinya sendiri, Iyem, 31, bersama anaknya yang berusia sekitar 6 tahun menunggu rezeki di depan rumah yang berbeda, Menurut rencana, kata Joko lagi, ia sekeluarga bakal menunggu sampai sekitar pukul 22.00 malam nanti. ?Malam takbiran biasanya banyak juga yang memberi,? ujarnya.
Berada di tempat ini bukannya tanpa halangan, tak jarang mereka harus kucing-kucingan dengan petugas patroli kompleks perumahan Pondok Indah, tempat merek biasa mangkal. ?Kami jadi susah dapat uang, padahal harus memberi juga untuk bos,?ujar Warno, seorang pemulungn yang juga datang dari Ciputat. Dirinya mengaku kedatangannya bersama pemulung lain dengan dikoordinir seorang bos. Namun demikian ia enggan menyebut siapa yang menjadi bosnya itu.
Sampai siang ini para pemulung masih terlihat berjejer di sebagian halaman depan pemukiman di sepanjang Jalan Metro Pondok Indah. Panas terik tak menghalangi niatan untuk menunggu zakat dari orang yang kebetulan lewat. Sebagian dari mereka tanpak duduk dan bercrengkrama dengan kawan lainnya. Sebagian yang lain tidur-tiduran di bawah kain selendang yang disulap jadi atapnya.
Gerobak-gerobak yang biasa mereka pakai terlihat di taruh berjajar pada lahan kosong di sekitar lokasi. Di tempat yang sama itu pula mereka biasa memasak mi instan ataupun menanak nasi.
Rinaldi Dorasman-Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|