|
Metro
Tujuh TKI Asal Belu Kemalingan di Kapal
Kamis, 11 November 2004 | 16:24 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Nasib sial menimpa tujuh orang tenaga kerja Indonesia asal Malaysia. Mereka harus merelakan hasil kerjanya selama dua tahun karena kemalingan saat berada di dalam KM Lawit yang membawa mereka dari Pontianak menuju Tanjung Priok. Total jumlah uang mereka adalah Rp 61.750.000,00.
Ketujuh orang TKI tersebut antara lain Saka (26 tahun), Tinus (31 tahun) Kobus (24 tahun), Adrianus (20 tahun), Domingus (20 tahun), Arnodus (20 tahun), dan Agus (23 tahun). Mereka semuanya berasal dari desa yang sama yaitu Kampung Sadi, Kabupaten Belu, NTT, dan mengaku satu keluarga dengan fam yang sama; Berek. Mereka bekerja pada perusahaan perkebunan sawit Ladang Rembunan Hijau di Bentulu, Serawak, Malaysia.
Selama berada di Malaysia, mereka sudah berganti perusahaan sebanyak empat kali. Pertama, mereka bekerja pada perusahaan CMX selama 2 bulan. Karena gajinya tidak dibayar, mereka kemudian meminta agennya, Buton, untuk mencari perusahaan lainnya. Dan kemudian dipindahkan ke perusahaan Majarani dan Imbox masing-masing selama satu bulan. Di kedua perusahaan itu mereka juga tidak dibayar.
Akhirnya, atas informasi dari seorang temannya, Maman, mereka diajak bekerja di Rembunan. Di sana mereka digaji sebesar 30 ringgit untuk setiap 200 tandan sawit yang mereka panen. "Sehari bisa dapat 500 tandan," kata Tinus. Tinus mengaku pulang ke Indonesia karena adanya program pemutihan (amnesti) oleh pemerintah.
Mereka berangkat dari Bentulu menuju Pontianak dengan menggunakan bus pada Minggu (7/11) malam, setelah sebelumnya mengurus dokumennya di Konsulat RI di Kuching. Dengan menggunakan KM Lawit, ketujuh orang itu berangkat dari Pontianak pada Selasa (9/11) pukul 17.00 WIB. Mereka sudah berada pada dek 3 kelas ekonomi.
Pada Rabu (10/11) pagi, mereka didatangi orang asing yang belum pernah dikenal sebelumnya. Kepada Saka, orang itu mengenalkan diri bernama Amir. Kepada Saka, Amir mengaku sebagai seorang TKI yang sudah bekerja selama 4 tahun di Kuching, Malaysia. Amir juga mengaku membawa uang 25 juta sebagai hasil kerjanya selama di negeri jiran itu. "Dia tanya saya bawa duit berapa," kata Saka ketika di temui di Terminal Penumpang Nusantara Pura 2, Pelabuhan Tanjung Priok, Kamis (11/11).
Karena curiga, Saka pun mengaku uang hasil kerjanya sudah dikirim kepada keluarganya di kampung. Namun Amir terus mendesak menanyakan berapa jumlah uang yang dipegangnya saat ini. Akhirnya Saka mengaku uang yang dipegang saat ini adalah sebesar 2 juta, yang akan digunakan sebagai bekal dan ongkos transportasi pulang ke NTT.
Ketujuh orang TKI tersebut sadar uang mereka hilang ketika sudah tiba di pelabuhan Tanjung Priok pada Kamis (11/11) pukul 05.00 WIB. Ketika itu mereka hendak menuju wartel guna menginformasikan kedatangan mereka kepada saudaranya. "Saya pegang itu tas, masih tebal?" tutur Saka kebingungan. Ternyata isi tas itu sudah berganti menjadi tumpukan kertas.
Menurut Saka, kemungkinan besar uang tersebut dicuri Amir saat sedang tidur pada Rabu malam. Padahal, tambah Saka, uang tersebut diletakkan dalam sebuah tas kecil yang dimasukkan dalam sebuah tas ransel milik mereka. Dan ransel tersebut diletakkan di tengah-tengah diantara mereka bertujuh ketika sedang tidur. "Tidak. Tidak ada," kata Saka ketika ditanya apakah Amir memberikan makanan atau minuman kepada mereka.
Mereka kemudian melaporkan kejadian ini ke KPPP (Kesatuan Pelaksana Pengamanan Pelabuhan) yang berjarak 200 meter dari terminal penumpang, pada pukul 07.00 WIB. Laporan mereka diterima Kepala SPK Unit B, Ipda (Pol) Ni Ketut Suartini, dengan nomor Surat Tanda Penerimaan Laporan Pengaduan bernomor 684/B/XI/2004/KPPP.
Ketujuh orang itu saat ini masih terkatung-katung di Terminal Penumpang menunggu kejelasan nasib dari Departemen Sosial. Karena pada siang harinya, pihak Depsos, menurut Saka, menyuruh mereka menunggu di Terminal Penumpang itu. "Pasti kamu akan berangkat pulang," kata Saka menirukan petugas Depsos
Tito Sianipar-Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|