|
Jakarta
Polisi Buru Burhan Tahar
Selasa, 09 November 2004 | 19:15 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Polisi masih memburu Burhan Tahar, pemilik pabrik ekstasi terbesar kedua setelah milik Ang Kim Sui. "Kalau dia masih di Indonesia kami sudah buat surat cekal, kalau sudah di luar negeri, kami kerjasama dengan interpol dan polisi ASEAN," ujar Direktur Narkoba Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Carlo Tewu kepada Tempo, Selasa (9/11).
Menurut Carlo, polisi masih bisa memperpanjang surat cekal yang dimintakan kepada Ditjen Imigrasi Departemen Kehakiman dan HAM untuk teman karib Ang Kim Sui ini. Masa berlaku surat tersebut masih 14 hari, terhitung sejak dikeluarkannya, minggu lalu.
Pabrik Burhan, yang kemarin diungkap polisi Polda Metro bekerjasama dengan Mabes Polri, mampu memproduksi pil ekstasi 10.000 per hari. Sedangkan pabrik Ang Kim Sui di Tangerang yang dinyatakan terbesar di Asia Tenggara mampu memproduksi hingga 12 ribu perhari. Ang sendiri divonis hukuman mati setelah ditangkap pada 1999. Burhan yang ikut dicokok saat itu hanya dihukum empat bulan.
"Kami monitor dia terus sejak dia keluar (tahun 2000), tapi dia tidak berbuat apa-apa. Biasa, cooling down dulu," ujar Carlo.
Hingga akhirnya, kata Carlo, polisi menemukan Sastra Wijaya, seorang sopir taksi, yang ternyata menjadi "karib" baru Burhan. Sastra sering terlihat bersama Burhan namun tidak melakukan apapun. Hingga akhirnya, diketahui bahwa pengemudi taksi hanya kedok saja. Kerja Sastra sesungguhnya adalah mengantar barang pesanan.
Menurut Carlo, polisi sudah tahu pola perilaku sindikat obat terlarang seperti itu. "Ya kalau tidak buat sindikat baru, gabung dengan yang lain. Atau bia juga buat pabrik sendiri," jelas Carlo.
Menurut Carlo, Burhan sendiri melarikan diri beberapa hari setelah polisi positif menemukan pabrik tersebut setelah mengikuti jejak tangan kanan Burhan, Sastra Wijaya. "Kami tidak mungkin menangkap Burhan kalau pabrik itu belum ditemukan," katanya. Walaupun, tambahnya, polisi sudah mengetahui tempat tinggal Burhan.
Burhan, ujar Carlo, merupakan satu dari tiga Tahar bersaduara yang masuk dalam kelompok Ang Kim Sui. Dua lainnya adalah Sofyan dan Karim. Selain itu dalam sindikat Ang Kim Sui, masih ada nama Jaap, yang berasal dari Utrecht, Belanda, yang berperan sebagai pemasok bahan-bahan pembuat ekstasi.
Lebih jauh Carlo menyatakan jika polisi masih menyelidiki kemungkinan adanya alat-alat yang diimpor dari luar negeri. "Tapi sebagian besar barang itu buatan
dan bisa didapat di Indonesia," ujar Carlo.
Di lokasi Senin lalu (8/11), polisi menemukan bahan setengah jadi untuk membuat shabu-shabu seberat dua kilogram. Bahan seperti tape ini, ujar salah satu petugas Pusat Laboratorium Forensik, bukan dibuat di ruko Daan Mogot Baru, Jalan Bedugul, Kalideres Jakarta Barat itu. "Itu dibuat di tempat lain, disini cuma ada
alat penyuling (menjadi kristal)," ujar petugas yang tidak mau menyebutkan namanya tersebut.
Carlo juga menduga bahan itu tidak dibuat di tempat tersebut. Karena, katanya, kalau ekstasi memang sudah bisa menjadi industri rumahan. "Tapi shabu itu masih impor. Susah bahannya," ujar dia. Namun dia menilai pabrik tersebut termasuk yang canggih lantran sudah bisa memproduksi shabu-shabu.
Seorang polisi yang menyidik tempat kejadian, kemarin juga mengatakan, bahan utama (precusor) pembuat shabu sulit didapat. Dia mengatakan, petugas labfor sempat mencari-cari bahan utama tersebut. "Nggak ada, artinya
barang itu diambil lagi sama si Burhan," ujar petugas itu.
Menurut Carlo, seharusnya memang ada pengawasan ketat dari instansi terkait yang mengawasi lalu lintas perdagangan bahan tersebut di dalam negeri.
(Yophiandi)
INDEKS BERITA LAINNYA :
|