Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Iptek  
  Internasional  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Metro

Teman Ang Kim Sui Buat Pabrik Ekstasi Lagi
Senin, 08 November 2004 | 18:49 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:

Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya menangkap dua tersangka sindikat produsen ekstasi dan sabu-sabu di Daan Mogot, Jakarta Barat. Mereka merupakan Yudha alias Akang yang menjadi "tukang masak" dan Sastra Wijaya yang menjadi pembantu sindikat pimpinan Burhan Tahar. Burhan sendiri lolos dalam penangkapan Jumat (5/11) lalu. Polisi menengarai Burhan sudah berada di luar negeri.

Burhan merupakan teman karib Ang Kim Sui yang pernah ditangkap aparat Polda Metro Jaya tahun 1999, Ang Kim Sui adalah pabrik ekstasi terbesar di Asia yang berada di Tangerang. Ang Kim Sui sudah divonis mati oleh Pengadilan Negeri Tangerang. Namun, Burhan yang saat itu ikut dicokok hanya mendapat hukuman empat bulan penjara. "Karena itu kami akan mengadakan pendekatan dengan jaksa dan hakim, agar pelaku seperti ini bisa diganjar berat," ujar Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Firman Gani di pabrik pembuatan psikotropika tersebut, Senin (8/11).

Bahan-bahan tersebut, ujar Firman didapat dari luar negeri. "Kita sedang selidiki dari mana mereka dapatkan bahan-bahan tersebut," ujarnya. Burhan, kata Firman, sudah dicekal karena menjadi daftar pencarian orang polisi. Dalam gedung rumah toko di Jalan Bedugul, Daan Mogot, Kalideres Jakarta Barat tersebut, berserakan bahan kimia yang menjadi bahan utama pembuat ekstasi dan sabu-sabu, seperti caffein, epherdyme, dan sodium hidrokside.

Puluhan botol sodium hidrokside yang sudah kosong juga tergeletak di halaman belakang gedung. Selain botol sodium dengan berat bersih 100 mililiter, juga masih ada alkohol, serta bahan kimia lain seperti eter yang menjadi limbah pabrik pembuatan narkotika tersebut. Sodium hidrokside merupakan bahan untuk memisahkan zat kimia dalam pembuatan sabu-sabu dan ekstasi. Epherdyme adalah bahan yang biasa digunakan untuk obat batuk. Eter, alkohol, dan sodium dibungkus dalam botol aluminium bertuliskan bahaya bahan mudah terbakar.

Di dalam rumah toko yang penuh dengan bahan kimia itu terdapat mesin pencetak yang digerakkan dengan tenaga listrik dan bisa mencetak 10 000 butir ekstasi perhari. Di lantai satu gedung tersebut ditemukan enam botol sodium hidrokside yang masih utuh dengan empat botol eter dengan berat bersih yang sama. Di sana terdapat mesin pengaduk bahan ekstasi yang menyerupai mesin berdinamo penggiling bakmi dengan tenaga penggerak listrik. Selain itu di sepanjang lorong terdapat dua mesin penyulling ekstasi serta kardus bahan kimia seperti eter dan sodium.

Di ruang tengah, terdapat 82 ribu lebih butir ekstasi berbagai warna yang siap diedarkan. Masing-masing dalam plastik bertuliskan 500 butir. Sementara bahan sabu, seperti cairan serta kristal dalam plastik ditemukan di lantai dua gedung. Di lantai tersebut juga tampak adonan seperti tape seberat sekitar dua kilogram yang menjadi bahan setengah jadi sabu-sabu. Di ruang
itu juga terdapat dua alat penyulingan berupa labu dengan leher angsa sebanyak dua buah. Di sana juga terdapat kompor kecil yang biasa digunakan untuk "memasak" bahan pembuat sabu. Di ruangan itu juga, terdapat satu buah televisi yang menampakkan dua monitor pengawas yang dipasang di tangga menuju lantai dua dan di pojok kiri pintu masuk ruko tersebut.

Menurut para pemilik ruko yang menjadi tetangga produsen tersebut, Burhan dan kawanannya tidak pernah bergaul dengan sesama penyewa ruko tersebut. "Tidak tahu sama sekali mereka buat narkoba," ujar Teddy yang bekerja di bengkel mobil tiga ruko dari ruko yang digunakan sebagai pabrik tersebut. Ia mengutarakan ruko tersebut pernah terbakar, namun langsung
dipadamkan oleh mereka sendiri dengan alat pemadam. "Pas kebakar mereka bilang lupa mati’in kompor lagi masak. Tapi saya mikir, kok baunya aneh," ujar Teddy. Ia sendiri tidak mengetahui apa kegiatan mereka di dalam ruko tersebut.

Sementara itu, pemilik bongkar pasang audio mobil yang bersebelahan dengan ruko tersebut, Sevrianto juga mengatakan para pembuat ekstasi tersebut tidak ramah. "Dia tak ramah jadi saya juga malas bergaul," ujarnya.

Sevrianto mengatakan, sejak enam bulan lalu, tiga orang dengan pakaian rapih dan bergaya bos datang ke ruko tersebut. Namun, akhir-akhir ini, katanya, hanya satu orang yang datang. Polisi menengarai orang itu adalah Burhan dari mobil yang dipakainya. Sevrianto mengatakn dua mobil mewah yang sering mangkal di tempat tersebut adalah Mercy New Eyes abu-abu metalik, serta BMW seri 5 warna hijau tua metalik. "Mereka sering terlihat bawa kardus besar, keluar masuk ruko," ujar Sevri. Namun sama seperti Teddy tidak ada kecurigaan sama sekali dengan penghuni baru tersebut.

Yudha dan Sastra sendiri dikenali Sevri sering menggunakan motor Suzuki built up baru serta motor Yamaha RX King. Yudha mengaku baru menjadi tukang masak Burhan sejak Agustus lalu. Dia sendiri mengaku baru keluar dari tahanan Mabes Polri setelah dihukum selama empat bulan sejak Januari 2004. Dia dicokok di kediamannya di daerah Cengkareng oleh polisi dari Mabes Polri sebagai pengedar ekstasi. Sastra dan Yudha mengaku dibayar perminggu sebesar Rp 500 ribu.

Yopiandi-Tempo

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Indonesian Gilas Kamboja
Pemerintah Tolak Audit Pembangkit PLN
Gratis BBM Setahun dari Chevrolet
Adu Mahir Observasi Bintang
Toyota Turunkan Target 2009

<< November,2004>>
MSnSl RK JS
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data