|
Metro
Harga Sembako di Pasar Kopro Belum Naik
Kamis, 04 November 2004 | 14:42 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Harga barang menjelang lebaran di Pasar Tomang Barat atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pasar Kopro, belum menunjukkan gejolak. “Biasanya pada H-10 harga barang sudah naik,” kata Jani Ilyas, Bendahara Koperasi Pasar Kopro.
Menurut Jani, belum adanya gejolak harga barang di pasar dikarenakan daya pembeli yang lemah. Harga semua barang termasuk daging, sayur mayur, dan telur masih normal. Hal ini didukung dengan pernyataan pedagang daging, Sama'un dan beberapa pembeli di pasar. “Harga minyak curah malah turun,” kata Jani. Tapi pada H-3 harga sayur mayur bakal naik. Itupun bukan dipengaruhi daya pembeli. Tapi karena kelangkaan barang akibat pemasok yang pulang kampung.
Mengenai keamanan pasar menjelang lebaran, Jani mengkhawatirkan banyaknya preman yang berkeliaran di pasar. “Kalau mereka cuma minta 1000-2000 masih normal, tapi susahnya mereka suka ambil barang dagangan kita yang mahal, itu yang repot,” lanjut Jani yang punya kios sembako di Pasar Kopro. Semua pengurus koperasi pasar adalah pedagang di Pasar Kopro.
Untuk mengantisipasi masalah preman, pedagang Pasar Kopro sudah melakukan koordinasi dengan Polsek Tanjung Duren dan Koramil setempat. Kemungkinan besar, Polsek dan Koramil akan menurunkan masing-masing tiga orang personil untuk keamanan pasar. Antisipasi ini dilakukan karena saat ini satpam Pasar Kopro hanya dua orang. Jumlah staf pasar berkurang sejak adanya sistem areal.
Sistem areal pasar mulai dilakukan sekitar dua tahun lalu sejak pergantian direksi di PD Pasar Jaya. Masing-masing areal dipimpin oleh seorang manajer. Biasanya satu areal mencakup lima pasar. Pasar Kopro berada di areal yang sama dengan Pasar Grogol, Jelambar, dan Timbul Barat. “Jadi sekarang tidak ada yang namanya kepala pasar,” kata Jani. Kontrol dilakukan oleh manajer areal, biasanya satu minggu sekali.
Pasar Kopro terdiri 625 kios. Produk jualnya sayur mayur, daging, ikan, logam mulia, sepatu, sembako, tekstil, dan pakaian jadi. Namun, jumlah pedagang kaki lima di Pasar Kopro lebih banyak dari jumlah kios. Hal ini disesalkan oleh Jani, karena kesemrawutan pedagang kaki lima salah satunya disebabkan oleh tidak adanya kepala pasar yang standby setiap hari di pasar. Hal lain yang dikeluhkan Jani antara lain, penerangan umum dijalur kios yang pengaturan biayanya terpisah dari retribusi.
Setelah lebaran, biasanya pasar kembali normal pada H+7. Tapi biasanya pedagang nonpribumi pada H+3 sudah mulai berjualan. Perbandingan perdagangan nonpribumi dengan pribumi di Pasar Kopro adalah 1:1.
Fanny febiana-Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|