|
Jakarta
Korban Tewas Bom Kuningan Bertambah Satu
Senin, 25 Oktober 2004 | 22:04 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Mutia Rahmani Amalia (17 tahun), salah seorang korban bom Kuningan, akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada hari Minggu (24/10).
Siswi SMUN 70 Bulungan, Jakarta Selatan ini meninggal saat tengah menjalani perawatan kesehatan dirinya di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura. Diperkirakan pukul 23.30 WIB malam ini jenasah akan tiba di Bandara Halim Perdana Kusumah.
Muti, demikian dia biasa dipanggil, tercatat sebagai salah satu korban luka berat dalam peristiwa 9 September lalu di depan Kedutaan Besar Australia.
Kejadian itu sendiri berlangsung saat sepulang sekolah, usai dirinya mengikuti ujian Blok Satu yang dulu dikenal dengan nama Ulangan Harian Bersama.
Kopaja yang ditumpanginya hancur ketika melintas di lokasi bom saat dirinya dalam perjalanan menuju rumah neneknya di Jalan Anggrek IV/21 Jakarta Selatan. Serpihan kaca memenuhi sekujur tubuhnya mengakibatkan infeksi pada luka dan melumpuhkan seluruh tubuhnya.
Sebelum dibawa ke Singapura, Muti tercatat telah tiga kali menjalani perawatan di rumah sakit yang berbeda di Indonesia. Sesaat setelah kejadian, gadis kelahiran 12 April ini mendapatkan pertolongan pertama di Rumah Sakit Mata Aini untuk kemudian menjalani perawatan di RSCM. Banyak simpati mengalir padanya.
Pemerintahan Megawati kala itu berjanji untuk menanggung segala biaya perawatannya sampai sembuh. Bantuan juga datang dari pihak Australia yang membantu memindahkan perawatan ke RS Medistra untuk menjalani operasi di sana.
Tak tanggung-tanggung, pihak Kedubes Australia pun menjanjikan hal yang sama untuk menanggung seluruh biaya atas pengobatannya. Menurut pengakuan Sulistia, ibunda Muti, anaknya sempat menjani pengobatan selama satu setengah bulan di Medistra.
Di RS ini Muti sempat menjalani operasi untuk menanggulangi pendarahan di kepalanya. Kesehatannya sempat membaik, namun tak berlangsung lama. Hanya selang dua hari setelah dibawa pulang ke rumah, Muti harus kembali menjalani perawatan di RS Medistra akibat terjadi komplikasi pada penyakitnya.
Keadaan terus memburuk ketika efek pendarahan yang dideritanya menjalar ke seluruh tubuh. Pembengkakan terjadi di seluruh tubuhnya. Dengan bantuan pihak Australia akhirnya pada tanggal 17 Oktober lalu dirinya diterbangkan ke RS Mount Elizabeth, Singapura.
Dia terlahir dari keluarga yang sangat dekat dengan dunia pendidikan. Rudi Gunardi, ayahnya, tercatat sebagai salah seorang tenaga pengajar di SMUN 6, sedangkan ibunya bekerja di Yayasan Perguruan Cikini.
Rinaldi - Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|