Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Iptek  
  Internasional  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Jakarta Pusat

Hizbut Tahrir Tolak Pemerintahan Sekuler
Sabtu, 11 September 2004 | 10:47 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) berdemonstrasi menolak pemerintahan sekuler, Sabtu (11/9) pagi. Demonstrasi yang diikuti sekitar 500 massa, dilakukan di Bundaran Hotel Indonesia.

Massa yang hadir membawa spanduk dan pamflet-pamflet yang berisi pernyataan sikap mereka, antara lain berbunyi "Syari'ah dan Khilafah Rahmat Bagi Semua", "Tolak Kekerasan dan Kepemimpinan Sekuler."

Dalam pernyataan sikapnya, juru bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto mengatakan, pelaksanaan syariat Islam dalam aspek politik sosial, ekonomi dan pendidikan hanya mungkin dilakukan oleh sebuah negara.

"Di sinilah arti penting keberadaan sebuah negara untuk menyukseskan pelaksanaan syariat Islam," ujar Ismail. Karena itu, menurutnya, dalam memilih kepala negara setiap muslim harus melihat syarat-syarat yang dimiliki. Yakni muslim, laki-laki, baligh, berakal, adil (konsisten menjalankan aturan Islam), merdeka, dan mampu melaksanakan amanat.

Pada kesempatan itu, HTI juga memberikan pernyataan sikapnya atas bom di Kedubes Australia di Kuningan, Kamis (9/9) lalu. Mereka mengutuk pelaku peledakan bom dan menyatakan bahwa syariat Islam dengan tegas melarang membunuh orang yang tak berdosa dengan motif apapun.

HTI juga menyerukan kepada semua pihak, khsusunya media massa dan kepolisian untuk bersikap hati-hati menanggapi spekulasi yang mengaitkan bom kedubes Australia dengan kelompok gerakan Islam.

Hadir pula dalam demonstrasi itu mantan Ketua Partai Bulan Bintang Ahmad Sumargono. Dalam orasinya, Sumargono mendukung penolakan pimpinan sekuler di negeri ini. Ia juga menyerukan agar negara-negara sekuler, khususnya Amerika Serikat, menghentikan aksi terornya terhadap umat Islam. "Kalau mau hentikan bom di Indonesia, Amerika harus hentikan teror di Palestina dan Irak," ujar Sumargono.

Khairunnisa - Tempo News Room

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Pendukung Mega Laporkan Suara Merdeka
KGHP Tedjowulan Bertemu Gus Dur dan Taufik Kiemas
Pondok Pesantren se-Provinsi Lampung Dukung SBY
Pendukung Mega Datangi Kantor Suara Merdeka
Taufik Kiemas Bertemu Gus Dur
Pemilih Tunanetra Difasilitasi Alat Bantu Coblos
Akbar Minta Sesepuh Golkar Abaikan Gerakan FPPG
FKPI: Bom di Kedubes Australia Berpotensi Dipolitisasi
Tim Mega di Bali Tak Risau Hasil Polling
Tim Mega–Hasyim Minta Kasus Bom Kuningan Tidak Dipolitisasi
> selengkapnya...


Referensi

Jadwal Pemilu Presiden Putaran Kedua
Profil Megawati Soekarnoputri
Profil Susilo B. Yudhoyono
Profil Jusuf Kalla
Keputusan KPU tentang Kampanye Pemilu Presiden dan Wakil Presiden
PP RI No. 9 Tahun 2004 Tentang Kampanye Pemilihan Umum Oleh Pejabat Negara
UU Nomor 3 Tahun 1999 tentang Pemilihan Umum Presiden
> selengkapnya...

Website

Panitia Pengawas Pemilu
KPU
Pro SBY
Mega For President
Megawati-Hasyim Muzadi
> selengkapnya...


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [2]


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< September,2004>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data