|
Jakarta
Jakarta Lirik Jepang untuk Garap Monorel
25 Pebruari 2004
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melirik Jepang sebagai pengembang monorel. Untuk itu, Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso bertandang ke Tokyo.
Meskipun demikian, Pemprov masih memberi kesempatan MTrans Malaysia, pengembang yang sebelumnya berminat menggarap monorel, untuk mengembangkan proyek ini.
Hanya saja, Pemprov menganggap perusahaan Malaysia ini tidak memberi jawaban pasti untuk menggarap proyek ini. "Kita tetap memberi kesempatan kepada MTrans. Tapi kalau ngambang seperti ini kita tidak bisa," kata Sutiyoso kepada wartawan di Balai Kota, hari ini (25/2).
Menurut Sutiyoso, selain melihat manajemen dan teknologi monorel Jepang, dia juga akan meninjau terminal mobil di Jepang. Rencananya, Jakarta akan membangun terminal ini di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.
Sutiyoso mengaku menerima undangan kunjungan ini dari perusahaan Hitachi. Perusahaan ini, katanya, menawarkan diri untuk menggarap monorel Jakarta.
Hitachi mengundang Sutiyoso untuk melihat monorel rekayasa Hitachi. Hitachi, menurut Gubernur, sukses membangun monorel dengan teknologi canggih di Jepang. "Lagi pula, Hitachi punya dana," katanya.
Juru bicara Pemprov DKI Muhayat mengatakan kunjungan Sutiyoso merupakan inisiatif Indonesia Transit Center (ITC), pengembang proyek monorel Jakarta. Rencananya Sutiyoso akan berada di Jepang sampai 28 Februari.
Sebelumnya, ITC mencoba menggandeng perusahaan Malaysia, MTrans, untuk menggarap monorel Jakarta. Sayangnya MTrans mengalami kesulitan keuangan untuk menggarap proyek ini.
MTrans sendiri masih mempunyai waktu sampai 28 Februari untuk menyatakan kesanggupannya menggarap monorel ini. "ITC tidak mau tergantung pada satu penawar saja," kata Muhayat.
Menurut Muhayat, nantinya penawar pengembang monorel ini akan dipilih berdasarkan kelayakan anggaran dan teknologi yang digunakan.
Sutiyoso sendiri mengaku akan menyerahkan hasil kunjungan ke Jepang ini kepada ITC. Ia meminta ITC memutuskan siapa yang berhak menggarap monorel nantinya. "Biar ITC yang menilai. ITC kan partner kita," ujarnya.
Multazam - Tempo News Room
|