Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Iptek  
  Internasional  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Tangerang

Pabrik Reebok Tutup, 3.700 Buruh Terancam PHK
02 Pebruari 2004

TEMPO Interaktif, Tangerang:Perusahaan sepatu merek Reebok Senin (2/2) resmi ditutup. Pabrik yang berlokasi di Jalan Raya Serang KM 14,4 Desa Dukuh, Cikupa, Tangerang, itu bahkan telah disegel semua ruang produksinya. Sebanyak 3.700 buruh terancam mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).

Surat penutupan pabrik itu ditandatangani oleh pemilik perusahaan, Mr. Chang. Dalam suratnya, menurut Nurhayat Santoso, Ketua Serikat Pekerja Tekstil Sandang dan Kulit (SPTSK), disebutkan alasan penutupan karena sudah tidak ada kepercayaan dari pemasok. Selain itu seringnya unjuk rasa buruh membuat perusahaan rugi.

“Yang kita persoalkan adalah ancaman PHK ini tanpa pesangon. Kami masih menuntut soal itu,” ujar Santoso kepada Tempo News Room.

Suasana pabrik pun hari ini tampak sepi tak ada aktivitas di dalamnya. Seluruh buruh libur. Rencananya besok buruh PT Starwin akan melakukan konvoi dari pabrik menuju Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Tangerang di Cikokol.

Santoso mengatakan, akibat pemogokan pada 7 November lalu dua orang buruh Starwin juga telah disel di Mapolres Tangerang. Alasan perusahaan menjebloskan Agus Sobari dan Joko, bagian teknik press, lantaran keduanya dituding melakukan perusakan kaca kantor pabrik pada unjuk rasa itu.

Bahkan Santoso juga sudah dilaporkan ke Polres Tangerang dengan tuduhan telah melakukan penghasutan. “Saya dipanggil Polres Tangerang pada Jumat lalu. Tetapi saya tidak datang karena masih memikirkan kepentingan buruh yang akan melakukan sidang di Depnaker,” ujarnya.

Dalam menentukan nasibnya, para buruh telah minta secara resmi kepada LSM Persatuan Buruh Banten Sejahtera (P2BS) di bawah payung Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk membantu mendampingi buruh Starwin menuntut hak pesangonnya.

Sementara itu, ditemui terpisah di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Dewasa Tangerang, Ketua Umum
PKS Hidayat Nur Wahid kemarin menyatakan pihaknya siap membantu para buruh yang dizolimi itu. “Kita akan perjuangkan mereka mendapatkan haknya. Dan kita akan laporkan kasus ini ke Menakertrans,” ujarnya.

Nur Wahid menyatakan pada prinsipnya dalam kasus yang menimpa buruh Starwin itu kesalahan perusahaan adalah tidak membayar hak buruh. Dalam hal ini pemerintah juga harus memperhatikan.

Seperti pernah diberitakan Koran Tempo, buruh Starwin pernah selama tujuh hari berturut-turut melakukan aksi pemogokan di dalam pabrik. Para buruh tidak melakukan aktivitas produksi. Mereka setiap hari dari pukul 07.00 hingga pukul 12.00 hanya duduk-duduk dan bernyanyi di halaman pabrik.

Puluhan spanduk saat itu dibentangkan, diantaranya berbunyi, 'Starwin jangan jadikan Doson ke-2' dan 'Turunkan Direktur Umum Ananta’.

Dalam demo sebelumnya, buruh menuntut pembayaran tunjangan hari raya (THR) senilai 200 persen seperti tahun-tahun sebelumnya. Perusahaan, kata Santos, pada 2003 ini menetapkan THR 100 persen, dan buruh menolak.

Melalui perundingan, Presiden Komisaris sekaligus pemilik PT Starwin, Mr. Chang, mengabulkan THR 200 persen. Tetapi kata Santoso, pembayarannya tidak sekaligus, melainkan bertahap. Yang pertama sudah dibayar pada 19 November setelah mogok, yang 100 persen lagi akan dilunasi pada Maret.

Sejumlah buruh yang ditemui di kantor SPTSK menuturkan Ananta pernah bekerja di pabrik sepatu Nike, PT Doson Indonesia. Dia, kata Muzain, bagian laboratorium kimia PT Starwin, dianggap sebagai penyebab ketidakharmonisan buruh dan majikan.

Akibat aksi pemogokan dalam sepekan ini, menurut seorang karyawan bagian pemasaran bernama Jawari, perusahaan akan merugi besar karena tersendat produksinya. Setiap hari menurut dia target produski sebanyak 10 ribu pasang sepatu yang dihasilkan.

“Kalau terlambat kita kirim, maka kita akan terkena denda, atau tidak mendapat order. Keuntungan perusahaan akan lari ke biaya pengiriman via udara, sebab jika tetap mengirim memakai kapal laut, lebih lama,” kata Jawari.

Berdasarkan catatan Koran Tempo, pada aksi mogok PT Starwin tahun lalu, Ananta sempat disandera karyawan. Dia juga diminta turun dari jabatannya. Sedangkan PT Doson hingga kini belum ada kejelasan pesangon terhadap 3.000 karyawannya, setelah pabrik di Jalan Raya Legok itu tutup. Banyak buruhnya yang kini menjadi pedagang sayur keliling di daerah Cipondoh dan Perumahan Medang
Lestari, Legok.

Ayu Cipta - Tempo News Room

Kirim Komentar   | Baca Komentar

 

 

dibuat oleh danendro : Radja
Berita Terkait

 
Berita jakarta Lainnya

Direksi Prudential Akan Diadukan Ke Polisi
(Rabu, 28/04/2004 | 21:53 WIB)
Warga SLTPN 56 Tetap Bertahan
(Rabu, 28/04/2004 | 19:40 WIB)
Pemda DKI Jakarta Laporkan Nurlaila ke Polisi
(Rabu, 28/04/2004 | 17:56 WIB)
RSCM Dilaporkan ke Polda Metro Jaya
(Rabu, 28/04/2004 | 14:19 WIB)
Danareksa Minta Hacker KPU Selesaikan Kontrak Kerja
(Selasa, 27/04/2004 | 19:35 WIB)
Ratusan Pedagang Pasar Baru Bekasi Bingung
(Selasa, 27/04/2004 | 17:12 WIB)
Joki Three in One Modus Baru Kejahatan
(Selasa, 27/04/2004 | 17:01 WIB)
90 Persen PDAM ‘Sakit’ Akan Diprivatisasi
(Selasa, 27/04/2004 | 16:18 WIB)
500 Karyawan Prudential Unjuk Rasa di PN Pusat
(Selasa, 27/04/2004 | 15:40 WIB)
Berkas Pemalsuan KTP Gunawan Dilimpahkan
(Selasa, 27/04/2004 | 15:12 WIB)

Index Berita





 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data