|
Metro
Orang Cacat Keluhkan Fasilitas Busway
15 Januari 2004
TEMPO Interaktif, Jakarta: Dengan keringat di sekujur tubuh, akhirnya Yuni Astuti, 33 tahun, berhasil menjejakan kakinya sampai shelter Pintu I Senayan. Sepintas tidak ada yang aneh dari ibu ini. Namun, jika diamati lebih seksama, ternyata kaki kanannya buntung, sehingga ia membutuhkan tongkat untuk menyangga tubuhnya yang sedikit gemuk.
Bukan hanya Yuni. Berdiri di sampingnya seorang ibu yang mengaku bernama Ariyani, 45 tahun. Sepintas, orang tidak akan tahu apa yang salah dari ibu ini. Ariyani, mengalami masalah pada penglihatannya. Meski sepintas kedua kelopak matanya seperti mata orang kebanyakan, tapi ia tidak mampu melihat.
Kedua wanita tersebut berasal dari Himpunan Wanita Penyandang Cacat yang hendak ambil bagian menikmati angkutan bus khusus yang Kamis (15/1) pagi diluncurkan Gubernur DKI Sutiyoso.
Keduanya bersusah-susah datang bukan karena hasratnya. Mereka diundang pihak pemerintah DKI untuk diajak sama-sama menikmati bus baru yang dipesan dengan harga sekitar Rp 850 juta per unit tersebut.
Yani mengeluh, setiap menaiki tangga jembatan penyeberangan, geraknya tak bisa lincah. Selain harus melawan desakan banyak orang, posisi tangga terlalu tinggi untuk orang cacat seperti dirinya. Ariyani juga sama merasakan sulitnya menuju busway. "Tangganya terlalu tinggi, bikin orang cepat capek,? katanya.
Penyandang cacat lain seperti Udin Komarudin, 33 tahun, tak mau ketinggalan antre naik busway. Pria dengan kursi roda ini mengaku bekerja di PT Hamanroko Enterprise, sebuah perusahaan kontraktor yang beralamat di Wisma Kyoei Prince Jalan Sudirman.
Menurutnya, usaha DKI memfasilitasi orang cacat tergolong lumayan. Udin bertempat tinggal di daerah Parung dan sehari-harinya berkendaraan sendiri untuk sampai ke kantornya. Ia berniat menggunakan busway jika operasinya sudah lancar. "Mungkin akan mencoba Sabtu dan Minggu dulu,? ujarnya.
Penyandang cacat yang juga naik kursi roda adalah Edwin, 42 tahun. Pria yang berkantor di sekitar Bendungan Hilir ini terpaksa diangkat keluar dari shelter Stasiun Kota oleh petugas. Ini karena, pintu khusus busway untuk penyandang cacat tidak bisa dimasuki kursi roda.
Edwin yang bertempat tinggal di Bintaro, memakai kursi roda karena kecelakaan pada 1997. Ia mengaku tidak sanggup mendorong kursi rodanya sendiri jika hendak menuju jembatan penyeberangan. "Kelandaiannya masih kurang, saya belum bisa," katanya.
Edwin menyayangkan tidak adanya tempat khusus kursi roda di dalam busway. Menurutnya, hal ini membahayakan bagi pengguna kursi roda, lansia maupun wanita hamil. Meski begitu ia tidak akan berhenti untuk mencoba naik busway lagi.
Dewi Retno-Tempo News Room
|