|
Bekasi
Bekasi Mulai Dilanda Kelangkaan Minyak Tanah
12 Januari 2004
TEMPO Interaktif, Bekasi: Kelangkaan minyak tanah mulai merambah Bekasi, khususnya di Bekasi Timur. Untuk mendapatkan satu atau dua liter minyak tanah, warga harus berjalan jauh membeli ke pedagang eceran dengan harga yang tergolong mahal, 1.400-1.500 rupiah per liter. "Belakangan ini, susah mencari minyak tanah. Kalau dapat sudah mahal, ditambah biaya naik ojeknya sampai ke daerah Bulak Kapal," kata Yono, 43 tahun, pemilik warung makan Tegal Ojo Lali Sinar Jaya di Jalan Nusantara, Kelurahan Arenjaya, kepada TNR, Bekasi, Senin (11/1). Padahal, mengacu pada surat keputusan Walikota Bekasi (541/kep 92 Ekbang/III/2003) terhitung 5 Maret 2003, harga penjualan tertinggi untuk wilayah Kodya Bekasi ditetapkan sebesar Rp. 912 per liter.
Dari hasil pantauan TNR di sekitar Kelurahan Sepanjang Jaya, Duren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur, sudah satu pekan terakhir minyak tanah cukup sulit ditemui di pedagang-pedagang eceran. Para pedagang makanan dan warga berekonomi lemah yang umumnya menjadikan bahan bakar minyak sebagai kebutuhan utama, terpaksa harus mencari ke luar kecamatan. "Sebelum minyak tanah langka di Kelurahan Sepanjang Jaya, Kecamatan Bekasi Timur, biasanya saya membeli minyak tanah cukup dari pedagang eceran di dekat warung makan saya ini. Tapi sekarang warung itu sudah jarang menjual minyak. Jadi kita harus berkeliling mencari ke tempat lain," kata Gunawan, 41 tahun, pemilik warung makan Tegal Sinar Tegal.
Dalam satu hari, Gunawan bisa menghabiskan 15-20 liter minyak tanah untuk memenuhi kebutuhan memasak makanan dagangannya. Tapi, dengan kalangkaan dan kenaikan harga minyak tanah itu, dirinya tidak bisa serta merta menaikkan harga makanannya. "Bisa-bisa tidak laku," kata Gunawan.
Menanggapi kelangkaan itu, Alex, seorang karyawan Unit Pemasaran Pertamina Empang Guci Sakti di Jalan Dewi Sartika 74, mengaku tidak tahu atas kelangkaan minyak di wilayah tanggung-jawab unit pemasaran itu. "Yang penting, kita sudah salurkan minyak tanah ke agen-agen," katanya dengan nada ketus. Tapi kelangkaan itu, kata Er, salah seorang karyawan agen minyak tanah Feri Kriswal di Jalan Dewi Sartika, terjadi sejak dua pekan belakangan. Dimana pasokan minyak tanah mengalami gangguan, pemberian jatah kiriman sebanyak 5000 liter per hari tersendat. "Karena hari liburan lalu dan dua kali tanggal merah nasional (natal dan tahun baru). Selain itu, kalau hari minggu kita memang libur," kata Er. Hal inilah yang dimanfaatkan para penjual eceran. Menurut Er, harga yang dilepas agen ke pengecer adalah Rp. 912 per liter.
Sementara, Haji Nasim, pengecer minyak tanah di sekitar Jalan Nusantara juga mengaku sulit mendapatkan minyak tanah. "Biasanya diantarkan seharaga Rp. 1300, lalu saya jual lagi seharga Rp. 1.400 per liternya," kata Nasim. Dirinya juga mengaku tidak tahu penyebab kelangkaan minyak tanah itu.
Bukan tidak mungkin, Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi sebenarnya bisa saja mengantisipasi kelangkaan itu dengan cepat. "Pemkot Bekasi seharusnya sudah mengetahui dan segera bertindak dengan cara menghubungi pihak unit pemasaran Pertamina di Bekasi, untuk mencari tahu penyebab kelangkaan minyak itu," kata Nurul Yakin, anggota Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Bekasi.
Menurut Yakin, minyak tanah adalah kebutuhan dasar masyarakat yang tergolong ekonomi lemah. Sehingga, pola penyaluran ke tangan masyarakat harusnya diatur Pemkot Bekasi dengan baik. "Harusnya Pemkot Bekasi dan pihak Pertamina memantau jalur distribusi minyak tanah untuk sampai ke masyarakat. Bisa saja memakai sistem pemantauan elektronik Geopositioning System. Sehingga minyak tanah betul-betul sampai ke masyarakat, tidak ngucur kesana-kemari," kata Yakin lagi. Untuk itu, dirinya berjanji akan melakukan pemantauan ke agen-agen minyak tanah.
Siswanto - Tempo News Room
|