Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Iptek  
  Internasional  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Metro

Tak mampu Beli Obat, Minan Gantung Diri
11 Januari 2004

TEMPO Interaktif, Jakarta: Minan bin Misan, warga Kampung Pengasinan 2 RT 03/17, Kelurahan Pengasinan, Rawa Lumbu, Bekasi, mengakhiri hidupnya dengan cara menggantungkan lehernya ke langit-langit kamar mandi.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Tempo News Room, peristiwa itu terjadi pada Minggu (11/1). Kuli bangunan ini diketahui sudah tak bernyawa ketika istri dan anaknya bangun menjelang subuh.

Menurut Saerah, istri korban, suaminya yang berumur 28 tahun tersebut sudah lama menderita maag. Berbagai obat yang diperoleh dari dokter maupun puskesmas, tak kunjung membuat Minan sembuh.

Terakhir, kata Saerah, suaminya berobat ke rumah sakit. Namun, resep obat yang diperoleh tidak mampu dibelinya. Minan sudah mencoba mencari pinjaman uang ke sana kemari untuk menebus obat ke apotik. “Saat ke kamar mandi, suami saya sudah ngegantung,” kata Saerah.

Dipagi buta itu, tetangga dan keluarga Saerah berdatangan. Misan, ayah korban, ikut melepas tali yang melilir leher Minan. Kata Saerah, sudah setahun suaminya sakit maag. “Sakit dan perih,” kata dia menirukan keluhan suaminya.

Minan sehari-hari bekerja kuli bangunan dengan upah Rp 20 ribu. Pendapat itu tidak rutin diperolehnya saban hari. Pekerjaannya tergantung ada orang yang menyuruhnya.

Kepala Unit Reserse Kriminal Polsek Bekasi Timur Inspektur Satu Erwin Siboro membenarkan peristiwa bunuh diri tersebut. “Kondisi rumah tangga korban sangat memprihatinkan. Mungkin korban putus asa dengan penyakit yang dideritanya,” kata Erwin menganalisa.

Menanggapi kasus bunuh diri karena sakit yang dilatarbelakangi oleh kesulitan ekonomi, Ketua Pendiri Lembaga Bantuan Hukum Kesehatan Jakarta Iskandar Sitorus menilai, pemerintah setempat lalai terhadap warganya. “Masyarakat putus asa dan akhirnya ambil jalan pintas,” kata Iskandar.

Siswanto-Tempo News Room

Kirim Komentar   | Baca Komentar

 

 

dibuat oleh danendro : Radja
Berita Terkait

 
Berita jakarta Lainnya

Direksi Prudential Akan Diadukan Ke Polisi
(Rabu, 28/04/2004 | 21:53 WIB)
Warga SLTPN 56 Tetap Bertahan
(Rabu, 28/04/2004 | 19:40 WIB)
Pemda DKI Jakarta Laporkan Nurlaila ke Polisi
(Rabu, 28/04/2004 | 17:56 WIB)
RSCM Dilaporkan ke Polda Metro Jaya
(Rabu, 28/04/2004 | 14:19 WIB)
Danareksa Minta Hacker KPU Selesaikan Kontrak Kerja
(Selasa, 27/04/2004 | 19:35 WIB)
Ratusan Pedagang Pasar Baru Bekasi Bingung
(Selasa, 27/04/2004 | 17:12 WIB)
Joki Three in One Modus Baru Kejahatan
(Selasa, 27/04/2004 | 17:01 WIB)
90 Persen PDAM ‘Sakit’ Akan Diprivatisasi
(Selasa, 27/04/2004 | 16:18 WIB)
500 Karyawan Prudential Unjuk Rasa di PN Pusat
(Selasa, 27/04/2004 | 15:40 WIB)
Berkas Pemalsuan KTP Gunawan Dilimpahkan
(Selasa, 27/04/2004 | 15:12 WIB)

Index Berita





 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data