|
Jakarta
Awak Angkutan Umum Akan Demo Busway
06 Januari 2004
TEMPO Interaktif, Jakarta:Awak angkutan umum yang melintasi rute searah dengan busway berencana melakukan aksi demo tanggal 18 Januari 2004. Mereka akan melihat terlebih dahulu uji coba pelaksanaan busway selama tiga hari yang mulai dilakukan tanggal 15 Januari.
Awak angkutan umum tersebut mengeluhkan penurunan pemasukan mereka setelah busway beroperasi. “Itu sudah pastilah. Karena rute kami juga ikut diubah,” kata salah satu sopir bus Kopaja 66 jurusan Blok M-Manggarai, Johnfri Siregar, kepada Tempo News Room/i>, Selasa (6/1).
Menurut Johnfri, rute Kopaja 66 akan berubah melewati depan Plaza Senayan terus ke Jalan Gerbang Pemuda hingga nantinya langsung naik ke arah jembatan Karet Semanggi.
“Perubahannya sih kecil, tapi kebanyakan penumpang kami naik dari Ratu Plaza dan sekitar Komdak,” kata Johnfri. Para penumpang tersebut tidak lagi dilayaninya bila kebijakan busway berjalan nantinya.
Untuk itu, kata Johnfri, dirinya bersama sejumlah awak bus Metro Mini, Kopaja, maupun Steady Safe, yang selama ini memulai trayek dari Blok M, akan berdemo ke DPR 18 Januari mendatang.
“Kalau saya pikir busway itu tidak akan bisa berjalan. Hanya bikin tambah macet saja,” kata dia sambil menunjuk ke arah deretan mobil-mobil pribadi dan bus umum yang mengalami macet di ruas Jalan Sudirman mulai dari depan Ratu Plaza. “Ini saja belum dimulai sudah macet, apalagi nanti,” kata dia.
Dia tidak habis pikir mengapa Gubernur Sutiyoso melakukan kebijakan yang mematikan mata pencaharian orang seperti dirinya. “Kalau nanti busway berjalan sudah tidak mungkin lagi saya memenuhi setoran Rp 300 ribu per hari, lihat saja nanti,” kata dia.
Johnfri hanya bisa berharap dan meramalkan bila nanti Sutiyoso sudah tidak lagi menjadi gubernur, busway tidak ada lagi. “Mungkin nanti pembatas jalan (yang memisahkan jalur busway dengan jalur kendaran biasa) akan dicabuti-cabutin,” kata dia.
Pernyataan serupa juga disampaikan salah seorang sopir taksi Jakarta City, Rohwan, yang menyatakan kemacetan yang ditimbulkan oleh busway sebelum operasionalisasinya membuat tahun ini menjadi tahun yang sulit buat dia dan teman-temannya.
Rohwan mengatakan biasanya pada jam pulang kantor ia bisa mengambil dua penumpang, namun sekarang hanya satu. “Karena sekarang macetnya sudah merajalela, jadi ketika saya balik lagi setelah mengantar penumpang yang pertama, sudah habis,” kata dia.
Ia menyatakan mungkin Jakarta sudah tidak ramah lagi bagi orang-orang miskin seperti dirinya. Kebijakan yang ada, menurut Rohwan, rata-rata hanya mempersempit ruang gerak mereka. “Kalau saya kan cari makan pagi buat sorenya,” kata dia.
Anastasya - Tempo News Room
|