|
Jakarta
Upaya DKI Atasi Kemacetan Dinilai Tak Efektif
18 Desember 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta: Berbagai upaya Pemerintah DKI mengatasi masalah transportasi di Jakarta dinilai belum menyentuh pangkal persoalan kemacetan. Jalanan tetap saja semrawut dan macet. Pengguna angkutan belum memperoleh layanan yang manusiawi.
Keamanan, kenyamanan, dan ketertiban pada transportasi umum masih jauh dari harapan. Hal ini diungkapkan Irwan Sukatmawijaya, Ketua Komite Eksekutif Consumer Protection di kantornya, Kamis (18/12).
Irwan berpendapat, solusi yang diambil pemerintah mestinya tidak menimbulkan persoalan baru. Misalnya kebijakan pembatasan penumpang berkendaraan pada jam-jam tertentu atau three in one, pembangunan jalan layang, berikut terowongan, nyaris yang sanggup menjawab problem kemacetan.
Lembaga Consumer Protection menilai, perpanjangan konsep three in one dari pagi sampai malam (06.30-22.00 WIB), berpotensi menyuburkan praktek joki dan tindak krimimal. Begitu pula dengan pembangunan jembatan layang serta terowongan, masyarakat dipaksa menanggung risiko sosial berupa macet yang berkepanjangan.
Gagasan membangun busway (bus jalur khusus), tak luput dari masalah. Proyek yang diharapkan bisa mengurangi volume kendaraan di sepanjang jalur Blok M-Kota, tenyata hari-hari ini menjadi sumber kemacetan. Pasalnya, sejak jalur protokol Jalan Sudirman-Thamrin disekat separator untuk busway, ruas jalan jadi menyempit.
“Dapat kita bayangkan sebelum dan sesudah pembanguan busway, kemacetan akan tetap menghadang warga yang naik mobil maupun angkutan,” kata Irwan sambil mengakui komitmen pemerintah terhadap peningkatan pelayanan transportasi patut diacungi jempol.
Ketika ditanya tentang rencana mengajukan gugatan, Irwan mengatakan, pihaknya akan memberi waktu 10 hari setelah waktu pencanangan busway. Bila busway banyak merugikan, pihaknya bakal menggugat Pemerintah Provinsi DKI.
Dia menambahkan, Consumer Protection telah melakukan penelitian kepada para pemilik gedung di kawasan Sudirman-Thamrin-Kota. Hasilnya, kata Irwan, mereka berniat untuk memindahkan gedung ke kawasan lain yang dianggap lebih nyaman. Dengan pemindahan gedung, mereka berharap terbebas dari kemacetan.
Maria Ulfa-Tempo News Room
|