|
Metro
Warga Pedongkelan Telah Merubuhkan Rumahnya
10 Desember 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta: Seluruh warga Kampung Pedongkelan Jakarta Timur yang tempat tinggalnya digusur, secara sukarela merubuhkan tempat tinggalnya, Rabu (10/12) siang. Berdasarkan pantauan Tempo News Room di lokasi, dari 162 rumah warga yang terletak di pinggiran danau Ria Rio itu, hanya ada satu dua rumah warga yang belum seluruhnya dirubuhkan.
"Dengan sedih hati, warga kami secara sukarela telah merubuhkan rumahnya," kata H. Abdul Ghofur, Ketua RW 015 Kelurahan Kayu Putih, Pulo Gadung, saat mengamati penghancuran rumah warga RT 006 dan 007. Setelah rumah itu dihancurkan para pemiliknya, Back Toe yang sejak Selasa kemarin telah beroperasi di daerah itu, mengumpulkan sisa-sisa kayu dari rumah warga yang masih ada dan menimbunnya sebelum dibuang ke suatu tempat.
Abdul Ghofur mengatakan bahwa seluruh warga telah menerima uang kerohiman sebesar 300 ribu rupiah per kepala keluarga. Warga sendiri telah mulai merubuhkan rumah mereka sejak Jumat pekan lalu.
Dalam kesempatan itu, Abdul Ghofur juga sangat menyesalkan uang kerohiman yang besarnya tidak seberapa. "Memang dengan uang sebesar itu warga kami dapat berbuat apa?" katanya. Sebagian besar dari warga menggunakan uang itu untuk mengontrak sementara di daerah sekitar itu .
"Kami mengontrak di daerah belakang (masih di RT 007) sebesar 250 ribu rupiah perbulan," kata Agus, warga RT 007. Padahal, jika dibandingkan dengan biaya membangun rumah-rumah mereka, biayanya jauh lebih besar. "Untuk rumah kayu yang ukuran 60 meter persegi saja butuh lima juta," kata Agus yang sehari-harinya berprofesi sebagai tukang bangunan itu.
Menurut Agus yang memiliki lima orang anak itu, dengan uang sebesar itu, ia hanya dapat mengontrak rumah dengan dua kamar yang sempit. Namun ia hanya dapat pasrah melihat Back Toe benar-benar menghancurkan rumah warga. "Habis bagaimana lagi?" tanya Agus dengan tatapan bingung.
Sebagian warga lainnya menumpang ke rumah keluarganya. Beberapa di antara mereka memang memiliki keluarga di daerah sekitar Kampung Pedongkelan yang saat ini belum terkena penggusuran. Banyak di antara mereka yang mengumpulkan barang mereka di lapangan tanah merah, yang terletak tidak jauh dari tempat itu.
Indra Darmwan - Tempo News Room
|