Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Iptek  
  Internasional  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Jakarta

2005, Ribuan Angkutan Umum Gunakan BBG
10 Desember 2003

TEMPO Interaktif, Jakarta: Ribuan angkutan umum di Jakarta, akan dijadikan proyek percontohan penggunaan bahan bakar gas (BBG), awal 2005, di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Departemen Perhubungan. "Tinggal menunggu Keputusan Presiden-nya," kata Ridwan Tamin, Asisten Deputi Emisi Udara Kementerian Lingkungan Hidup, Rabu (10/12).

Rencananya, angkutan umum itu meliputi 2000 angkutan kota, 50 bis kota, dan 10 ribu taksi. Bahan bakar untuk angkutan kota dan bis kota menggunakan gas alam yang dimampatkan compressed natural gas (CNG). Sementara, taksi menggunakan Liquid Petroleum Gas (elpiji). "Departemen Perhubungan bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Norma Keselamatan Kerja Departemen Tenaga Kerja, untuk pengawasan tabung gas yang akan digunakan," kata Djarot M Subroto, Kepala Sub Direktorat Sarana Angkutan Jalan Departemen Perhubungan.

Menurut Djarot, untuk memudahkan pengawasan, penjualan tabung gas hanya dilakukan agen tunggal pemegang merek (ATPM) converter kit. Tiap tabung harus memiliki masa kadaluwarsa (expired date). "Untuk memudahkan pengawasan masa kadaluarsa, agen bertugas mendata pembeli dan tahun pembelian. Bengkel dan mekanik yang mengerjakan converter kit, termasuk tabungnya, harus memiliki ijin Direktorat Jenderal Perhubungan Darat," katanya. Alasannya, tiap 5 tahun tekanan hidrostatik tangki bahan bakar harus diperiksa.

Sebenarnya, bukan tidak pernah uji coba BBG ini dilakukan. Lihat saja, pada 1986, penggunaan BBG sudah diberlakukan pada 300 taksi, 40 mikrolet dan 40 bis. Ternyata hingga 2000, BBG menjadi primadona. Lebih dari 6 ribu kendaraan umum menggunakannya. Sayangnya sampai 2002, pengguna BBG menurun drastis, hanya mencapai 2 ribu kendaraan. "BBG sulit didapat, karena jumlah stasiun pengisian terbatas. Selain itu, pengisian hingga tiga kali lipat membuat BBG tidak ekonomis," kata Harijanto, Manager Strategic Planning Pertamina. Apalagi, persepsi masyarakat terhadap penggunaan BBG adalah kurang aman dan nyaman.

Selain BBG, kata Ridwan Tamin, elpiji yang terbuat dari minyak mentah juga menjadi salah satu bahan sosialisasi pada 2005. "Penggunaannya lebih mudah, cocok dengan budaya Indonesia yang inginnya mudah," katanya.

Yophiandi - Tempo News Room

Kirim Komentar   | Baca Komentar

 

 

dibuat oleh danendro : Radja
Berita Terkait

Pemerintah Terjunkan Tim Perbaikan Pipa Gas
Pemerintah akan Kaji Ulang Sistem Bagi Hasil Gas
Harusnya Gas Untuk PLTG Arun Jadi Prioritas
Indonesia akan Turunkan Harga Gas Alam Cair

 
Berita jakarta Lainnya

Direksi Prudential Akan Diadukan Ke Polisi
(Rabu, 28/04/2004 | 21:53 WIB)
Warga SLTPN 56 Tetap Bertahan
(Rabu, 28/04/2004 | 19:40 WIB)
Pemda DKI Jakarta Laporkan Nurlaila ke Polisi
(Rabu, 28/04/2004 | 17:56 WIB)
RSCM Dilaporkan ke Polda Metro Jaya
(Rabu, 28/04/2004 | 14:19 WIB)
Danareksa Minta Hacker KPU Selesaikan Kontrak Kerja
(Selasa, 27/04/2004 | 19:35 WIB)
Ratusan Pedagang Pasar Baru Bekasi Bingung
(Selasa, 27/04/2004 | 17:12 WIB)
Joki Three in One Modus Baru Kejahatan
(Selasa, 27/04/2004 | 17:01 WIB)
90 Persen PDAM ‘Sakit’ Akan Diprivatisasi
(Selasa, 27/04/2004 | 16:18 WIB)
500 Karyawan Prudential Unjuk Rasa di PN Pusat
(Selasa, 27/04/2004 | 15:40 WIB)
Berkas Pemalsuan KTP Gunawan Dilimpahkan
(Selasa, 27/04/2004 | 15:12 WIB)

Index Berita





 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data