|
Jakarta Pusat
Kursi Restorasi Dijual Rp 40.000
21 November 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta: Padatnya penumpang kereta api ekonomi menjelang Lebaran dimanfaatkan oknum petugas PT Kereta Api Indonesia untuk menjual kursi di gerbong restorasi. Setiap kursi dipatok Rp 40.000, meskipun penumpang telah memiliki tiket perjalanan.
Seorang petugas kereta api ekonomi Kertajaya jurusan Jakarta - Surabaya di Stasiun Senen, kemarin (20/11) menawari Tempo News Room kursi restorsi Rp 40.000. "Harga itu sudah pas, nggak boleh kurang," kata petugas yang enggan disebut namanya.
Rupanya uang sebesar Rp 40.000 itu harus dibagi-bagi kepada petugas yang lain. Hal ini terungkap dari pengakuan petugas itu. "Sudah murah, mandor nggepuki (memukul) mending nggak usah kalau nggak Rp 40.000," katanya.
Gerbong restorasi yang mestinya untuk tempat makan penumpang itu telah dipadati penumpang. Setidaknya di ruangan itu telah ada 10 kursi teriri penumpang dari 16 kursi yang ada.
Dua orang penumpang yang sempat ditanya Tempo News Room membenarkan harga yang telah dipatok petugas itu. Menurut salah seorang penumpang, harga tempat duduk ditawar Rp 30.000 juga tidak diberikan.
Selama tiga hari memantau di Pasar Senen, penumpang kelas ekonomi memang yang menjadi ladang emas buat para petugas kereta api, kuli angkut, dan calo. Para penumpang yang sebagian belum berpengalaman bepergian segera dimanfaatkan oleh orang-orang tersebut untuk membayar ongkos "sukarela" --demikian istilah para porter dan calo--.
Akhirnya para penumpang itu tidak dapat mudik murah, meskipun harga tiket ekonomi kereta api kelas ekonomi, tidak terlalu mahal. Harga tiket jurusan Surabaya misalnya, Rp 42.000.
Jika seorang penumpang membeli tiket Rp 42.000 ditambah membayar Rp 40.000 --agar bisa duduk di restorasi--jumlahnya Rp 82.000. Harga ini hampir mencapai tiket kelas bisnis dengan jurusan yang sama sebesar Rp 100.000. Itu pun belum termasuk ongkos angkut barang yang setiap naik kereta api rata-rata sebesar Rp 5000 hingga Rp 10.000.
Kepala Stasiun Senen Sugeng Setiono menyatakan rasa terima kasih atas informasi oknum menjual kursi restorasi. Dia mengaku kursi restorasi seharusnya tidak boleh untuk diperjualbelikan. "Seharusnya kursi restorasi untuk makan penumpang, bukan untuk permanen diduduki," kata Sugeng.
Bernarda Rurit - Tempo News Room
|