|
Jakarta Selatan
Kebakaran di Rumah Jaksa, 6 Tewas
09 November 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta:Enam orang tewas terpanggang dalam kebakaran yang melanda rumah seorang jaksa di kompleks Kejaksaan, Lebak Bulus, Kjakarta Selatan, Sabtu (8/11) dini hari. Kebakaran itu merenggut nyawa seisi rumah, kecuali seorang bocah berusia lima tahun. Ia dapat diselamatkan warga dengan luka bakar di sekujur tubuh.
Kebakaran terjadi sekitar pukul 02.15, saat semua penghuni rumah tidur lelap. Keenam korban yang tewas adalah jaksa Evi Kawet, 54 tahun, dua cucunya (Andika, 11 tahun, dan Imanuel, 7 tahun), dan saudara sekampung Evi, Wis, 48 tahun, dan dua putrinya Endah, 27 tahun, dan Merlin, 21 tahun. Korban yang selamat adalah Tabhita, yang juga cucu Evi, dan saat ini masih dirawat di Ruang Isolasi Unit Luka Bakar RS Pertamina, Jakarta Selatan, akibat 28 persen luka bakar di kepala, tangan, dan lengan.
Menurut saksi, kebakaran baru diketahui warga setelah api menghanguskan sebagian besar rumah berlantai dua di Jalan Adhyaksa Blok D4 No. 106 itu. "Kalau tidak melihat asap yang mengepul keluar, mungkin kami tak tahu ada kebakaran, karena tak ada teriakan," kata Alif, warga kompleks itu. Bersama sekelompok pemuda, malam itu Alif sedang bergadang menunggu waktu sahur.
Awalnya, tetangga masih sempat bahu-membahu dengan korban mengeluarkan anak-anak dari kepungan api. Namun, karena kobaran api telah melahap sebagian besar rumah, pertolongan yang diberikan warga tak banyak membantu. Mereka hanya berhasil menyelamatkan Tabhita. Seseorang yang mengeluarkan Tabhita lewat kaca nako, justru jatuh tergelincir dan hilang ditelan kepulan asap. Petugas pemadam kebakaran baru datang ke lokasi kejadian pada pukul 05.00 pagi dan api baru bisa dikuasai setengah jam kemudian.
Penyebab kebakaran masih belum diketahui. Para tetangga memperkirakan petaka itu disebabkan kompor gas yang meledak, obat antinyamuk bakar, atau korsleting. "Kami masih menunggu laporan forensik," kata Alif.
Namun, Kepala Unit Reserse Kepolisian Sektor Cilandak Iptu Subekan menepis dugaan sementara warga yang memperkirakan kebakaran dipicu oleh bocornya gas dari kompor rumah korban. Alasannya, kata dia, dari pemeriksaan diketahui kompor gas berada dalam keadaan baik dan normal.
Subekan menjelaskan, sampai tadi malam Pusat Laboratorium Forensik Mabes Polri terus bekerja mengumpulkan bukti dan mencari penyebab kebakaran. "Kami belum mempunyai dugaan sementara," ujarnya kemarin.
Pada saat dievakuasi, semua korban ditemukan menyebar di lantai satu. Dua mayat ditemukan di ruang tengah, satu di ruang tamu, dua di belakang, dan satu di kamar mandi. Menurut Dani, seorang petugas paramedis yang ikut mengevakuasi korban, sebagian besar korban ditemukan dalam kondisi sulit dikenali karena sudah menjadi arang, kecuali satu korban yang ditemukan di kamar mandi. Keenam mayat korban kebakaran dilarikan ke RS Fatmawati, yang berjarak sekitar 2 kilometer dari lokasi kejadian.
Hingga kemarin siang, semua korban tewas masih disemayamkan di Instalasi Forensik dan Perawatan Jenazah RS Fatmawati. Ruang duka dipenuhi isak tangis keluarga para korban yang datang dari Jakarta dan Manado. Rudy Watak, mantan suami Evi, juga tampak di antara keluarga. Peti mati yang diletakkan berjejer di ruang duka, tak diizinkan keluarga untuk dibuka lagi.
Menurut rencana, keenam korban akan dimakamkan hari ini di TPU Cibinong, yang menjadi lokasi pemakaman Kejaksaan, sambil menunggu kedatangan anak Evi, Jacquelin, yang tinggal di Amerika bersama suaminya.
Deddy Sinaga/Agriceli/Ucok Ritonga - Tempo News Room
|