|
Bekasi
Bajing Loncat Rampok Truk Tronton di Tol
06 November 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta:Komplotan bajing loncat yang selama ini meresahkan pengguna jalan tol, Selasa (4/8) lalu, kembali menyikat sebuah truk tronton yang bermuatan minuman susu berbagai merek di Tol Palimanan KM 1.
Komplotan itu juga menyekap sopir dan kenek truk selama satu hari. Kerugian akibat aksi perampokan itu diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. Perampokan itu sendiri baru terungkap Rabu (5/6) malam setelah dilaporkan ke polisi.
Drama perampokan itu dimulai ketika truk tronton yang memiliki panjang sekitar 13 meter, sekitar pukul 13.30 WIB mengangkut sekitar 1.500 kotak susu berbagai merek produksi PT Unilever dari PT SHP di Cakung Jakarta Timur. Rencananya susu itu akan dikirimkan ke perusahaan CV Rapi yang beralamat di Surabaya.
Perampokan terjadi di jalan tol sekitar pukul 21.00 WIB. Drama itu dimulai ketika sopir dan kenek menghentikan truk di tepi jalan karena truk yang memiliki 12 roda mengalami pecah ban di bagian depan kiri.
Truk itu dikemudikan Yanto, 52 tahun, warga Jalan Semeru RT 2/3 Kampung Mbabeh Kecamatan Griyorejo, Gresik, dan dikeneki oleh Iman Sari, 48 tahun, warga Kampung Warugung, Kecamatan Warugung Karang Pilang Surabaya.
Kedua karyawan antar jemput barang dari perwakilan PT RAPI cabang Jakarta itu tidak menyadari telah diincar oleh sejumlah pria yang telah memarkirkan mobil di depan truk. Setelah ban hampir selesai diganti dengan ban cadangan tiba-tiba dua orang pria berbadan besar dan berambut gondrong berpura-pura untuk meminjam kunci tang kepada Iman.
“Waktu itu saya bilang nanti dulu, saya lagi sibuk,” kata Iman. Ketika Iman akan berdiri untuk mengambil kotak tempat penyimpanan kunci pria itu langsung menjepit leher Iman. Sementara dua orang pria lagi juga memberi jurus mengunci leher, sehingga korban jadi tidak berdaya. “Saya hanya ingat untuk bisa selamat saja,” ujar Iman di kantor Polsek Lemah Abang.
Setelah korban berhasil dilumpuhkan paksa oleh pelaku, keduanya diancam dengan senjata tajam. Akibatnya mereka tidak dapat berkutik sama sekali. Mereka menuruti keinginan perampok ketika disuruh masuk kembali ke truk tronton yang dikemudikan salah satu bajing loncat.
Di dalam kabin truk, kedua korban disuruh berbaring tengkurap. Setelah itu, kedua tangan korban diikat ke belakang.
“Saya diikat pakai tambang plastik,” kata Iman yang wajahnya tampak pucat karena kurang tidur. Selain itu, mata dan mulut Iman dan Yanto juga ditutup menggunakan lakban tebal warna hitam. “Sampai sakit banget,” ujar Yanto dengan logat Surabaya kental.
Setelah berjalan cukup lama di jalan tol, truk keluar melewati sebuah pintu tol. Namun, Iman dan Yanto tidak mengetahui pintu tol tempat keluar truk karena wajah mereka dilakban. Keduanya hanya mendengar sopir salah arah dan diperintahkan berbalik arah.
Tidak lama kemudian, truk yang dikemudikan perampok berhenti di suatu tempat. Yanto dan Iman lalu disuruh turun untuk pindah ke sebuah kendaraan Carry. “Saya dijagain terus, setiap saya bergerak pasti nyenggol salah satu perampok,” kata Iman. Sementara itu, di dalam perjalanan yang sangat panas itu, Yanto mengaku sempat kena satu pukulan karena bapak dua anak ini mencoba berontak.
Sekitar tiga jam kemudina, laju kendaraan kembali berhenti di suatu tempat sekitar Bekasi. Yanto dan Iman dipaksa turun. Setelah menuruti kemauan komplotan perampok, mereka diajak memasuki sebuah ruangan. Di ruangan ini, ikatan tali dan lakban di wajah mereka di lepaskan pelaku.
Mereka diikat kembali, namun, ikatan di tangan berubah ke bagian depan. Mereka disekap di ruangan itu hingga esok harinya, Rabu (5/11). “Kami juga diberi makan, tapi tetap dijaga oleh pria yang makai topeng,” kata Yanto yang mengaku telah menjadi sopir selama 18 tahun. Penyekapan itu terjadi hingga sekitar pukul 17.30 WIB.
Komplotan perampok kemudian kembali membawa mereka dengan naik mobil. Tetapi, sebelumnya kedua korban kembali diikat tangan, mata dan mulutnya. Ikatan tangan, kali ini bukan lagi dengan tambang, namun pelaku mengikat menggunakan rantai yang digembok.
Setelah berputar-putar, sekitar pukul 19.30 WIB korban diturunkan di kebun milik warga yang telah kosong, tepatnya di sekitar Kampung Kaliulu Rt 3/2 Tanjung Sari Cikarang Utara. Sebelum diturunkan, korban terlebih dahulu diberi uang sebesar Rp 10 ribu. “Nih, usaha sendiri, ya,” kata perampok ditirukan Yanto.
Selama sekitar satu jam di lahan kosong itu. Kedua korban ini berusaha saling melepaskan tali yang mengikat tangan dan lakban di wajah. Upaya itupun akhirnya berhasil. Setelah itu mereka meminta pertolongan ke warga di sekitar, tapi justru warga merasa ketakutan.
“Saya sampai enam kali minta tolong pada warga dan tukang becak, tapi mereka lari,” kata Yanto. Akhirnya, mereka nekat berjalan kaki sekitar 500 meter sampai menemukan kampung. Mereka ditolong warga dan melaporkan peristiwa perampokan ke kantor polisi.
Sementara Kanit Resintel Lemah Abang Iptu Rizal Marito saat ditemui wartawan mengatakan bahwa perampokan itu terjadi di luar Bekasi, tetapi korban dibuang di Kampung Kaliulu.
Kerugian sampai sejauh ini belum dapat ditaksir, tapi jumlahnya berkisar ratusan juta rupiah. Dia menduga pelaku perampokan dilakukan lebih dari empat orang. Pihak kepolisian sejauh ini masih menyelidiki pelaku. Dia juga mengakui di Lemah Abang dalam sebulan terjadi tiga kali kasus serupa.
Siswanto - Tempo News Room
|