|
Jakarta
Komparta Minta TPJ Diaudit Independen
05 November 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta:Komunitas Pelanggan Air Minum Jakarta (Komparta) menilai masalah keuangan yang dialami PT Thames PAM Jaya (TPJ) harus dibuka secara transparan. Hal ini dikatakan Suta Widhya, Ketua Divisi Humas Komparta, Rabu (5/11) saat dihubungi lewat telepon.
Menurut Suta, defisit yang diungkapkan pihak TPJ harus dibuktikan oleh auditor independen. Suta menenggarai penguasa Pemprov juga punya kepentingan menggolkan kepentingannya.
Pernyataan Suta menanggapi kondisi defisit yang dialami TPJ saat ini. Sebelumnya Presiden Direktur PT Thames PAM Jaya (TPJ), John Trew, mengakui pihaknya sedang menghadapi beberapa tantangan ekonomi serius perihal kegiatan operasional di Jakarta dan mengalami defisit sekitar US$ 1 juta setiap bulannya.
“Kami tidak paham tentang data itu. Tetapi sikap kami menolak kenaikan harga air,” kata Suta. Menurut Suta, pada intinya penghematan bisa dicegah dengan mengurangi kebocoran. “Jika mau menekan biaya maka harus mengurangi kebocoran dan mengurangi ekspatriat,” katanya.
Suta menilai penggunaan orang-orang asing yang ada di perusahaan air minum selama tiga tahun berturut-turut sebagai ahli teknologi merupakan pemborosan. “Pada kenyataannya manipulatif, sedangkan tenaga kerja Indonesia belum bisa mengisi posisi tersebut,” ujarnya.
Suta menambahkan, pihak TPJ pun memakai orang asing. Padahal solusi menghindari kenaikan per Januari 2004 bisa ditekan dengan cara mengurangi tenaga ekspatriat dan dari kebocoran yang mencapai 51-67 persen. “Semua bagian dikurangi 10 persen itu suatu prestasi yang bernilai,” kata Suta.
Ketika ditanya apakah Komparta mengetahui perhitungan kerugian yang diakui TPJ, Suta belum bisa membuktikan apakah benar data TPJ tersebut. “Kalau itu diakui oleh mereka, mesti dibuka secara transparan,” kata Suta. Menurut Suta, ada indikasi tekanan dari pihak asing untuk memprivatisasi PT PAM.
Besok pukul 09.00 WIB rencananya Komparta akan mengadakan aksi di Pengadilan Jakarta Pusat bersama elemen LSM dan mahasiswa. "Pada intinya kami menyampaikan opini publik. Komparta tidak hanya merupakan komunitas pelanggan air Jakarta tapi komunitas perlawanan rakyat kota," ujarnya.
Reni Chairani - Tempo News Room
|