TEMPO Interaktif, Jakarta: Untung Wahyudi, 22 tahun, tewas dibunuh oleh teman satu kontrakannya di Jalan Perintis Kemerdekaan, Pedongkelan Kayu Putih Pulo Gadung, Kamis (30/10), sekitar pukul 10.00 WIB. Untung menghembuskan nafas terakhir setelah dada kirinya ditikam parang dan kepalanya dihantam dengan batu besar.
Pelakunya adalah teman satu kontrakan, Dede. "Padahal mereka biasa makan sama-sama, merokok dari bungkus yang sama. Saya tidak mengerti mengapa dia tega sampai seperti itu," kata Ayu, 25 tahun, istri Untung, saat ditemui di kamar mayat Rumah Sakit Cipto Mengoenkoesoemo, Jakarta. Dia menangis terisak.
Ayu melihat langsung peristiwa itu, tapi tak tahu persis mengapa Dede tega menghabisi suaminya. Menurut Ayu, kasus ini bermula dari pada Kamis pagi. Dede, yang tinggal di kamar atas, membangunkan suaminya yang tidur di ruang bawah dengan cara menendang kaki suaminya itu. Untung segera terbangun dengan emosi.
Ia segera naik ke atas yang kemudian disusul Dede. "Di atas mereka berkelahi," kata Ayu. Tak berselang lama, suaminya turun dengan hidung dan tangan berdarah-darah. Ayu sempat menanyakan kepada suaminya, yang sehari-harinya kuli angkut di Stasiun Senen itu. Suaminya hanya menjawab singkat, "Biarin saja. Saya diajak kerja Dede, tetapi saya tidak mau."
Setelah itu, Ayu mengira persoalan selesai. Ia pun ke warung untuk membeli Handyplast untuk mengobai luka suaminya. Sekembalinya dari warung, alangkah terkejutnya dia mendapati suaminya dikeroyok Dede bersama temannya, Erwin. Dede bersenjatakan parang dan celurit, Erwin membawa kayu.
Sambil mengendong Nisa, anak satu-satunya yang masih berusia delapan bulan, Ayu mencoba melerai. Saat Untung sudah dipangkuannya, setelah dadanya robek oleh parang Dede, ternyata kepalanya masih dihantam dengan batu. Setelah itu, kedua pelaku melarikan diri.
Dengan susah payah Ayu mencari taksi untuk ke Rumah Sakit Islam Cempaka Putih. Sang suami menghembuskan nafas terakhir saat di dalam taksi. Dalam perjalanan ke rumah sakit, Untung sempat memegang-megang perutnya. "Saya sedang hamil dua bulan." kata Ayu sambil mengusap-usap perutnya, sambi berurai air mata. Ada bercak darah darah suaminya yang telah mengering.
Indra Darmawan - Tempo News Room