|
Bogor
Helikopter TNI Jatuh, Tujuh Tewas
30 Oktober 2003
TEMPO Interaktif, Bogor: Helikopter militer jenis Sikorsky S-58T Twin Pack dengan nomor H-3408 milik TNI Angkatan Udara pukul 10.15 kemarin, jatuh di areal kebun kacang dan tanaman singkong di dalam pangkalan udara militer Atang Sanjaya, Bogor.
Tujuh anggota TNI Angkatan Udara--dua penerbang dan lima kru mekanik--tewas seketika setelah helikopter angkut serbaguna buatan Amerika pada 1970 itu terhempas ke tanah. Lokasi musibah hanya berjarak 50 meter dari tempat pesawat tersebut tinggal landas.
Mereka yang meninggal dalam kecelakaan itu adalah pilot Kapten Penerbang TNI AU Andy Wijaya dan kopilot Kapten Penerbang TNI AU Gustaf Marganto dengan lima kru teknik Skuadron Udara Atang Sanjaya: Sersan Mayor Munajat Hadiansyah, Sersan Kepala Bobby Aprianto, Sersan Kepala Udin Syefudin, Sersan Satu Ibnu Mawardi, dan Prajurit Kepala Sukendar.
Hingga kemarin petang, bangkai helikopter bernomor lambung Blade 58-11-SA-1447 DWG SIG 13 itu masih berada di lokasi dan dijaga sangat ketat. Moncongnya terlihat remuk, ekor dan baling-balingnya patah, berserakan ke segala arah.
Wartawan foto dan juru kamera televisi dilarang mengambil gambar pesawat nahas tersebut. Puluhan wartawan media cetak dan elektronik harus gigit jari karena dilarang memasuki wilayah Atang Sanjaya. Petugas piket di pintu gerbang mengatakan, ada perintah atasan yang melarang siapa pun memasuki kawasan pangkalan udara militer tersebut.
Musibah itu bermula ketika helikopter berusia 33 tahun yang baru saja menjalani perawatan rutin itu melakukan uji terbang (flight test). Heli angkut serbaguna yang bermarkas di Skadron Udara 6 Atang Sanjaya itu biasa mengangkut 16 penumpang. "Ini kegiatan rutin. Setelah perawatan rutin, pesawat melakukan uji terbang," kata Komandan Pangkalan Udara Atang Sanjaya Kolonel Penerbang Teuku Djohan.
Pukul 10.00 WIB heli lepas landas. Namun, baru 18 menit mengudara, burung besi itu tiba-tiba ambruk dari ketinggian 300 meter. Helikopter yang hendak mendarat itu, menurut Djohan, langsung terhempas ke bawah tanpa oleng terlebih dulu.
Hingga kemarin Djohan belum memastikan apa penyebab kecelakaan itu. Ia hanya mengatakan, helikopter bisa jatuh karena tiga hal. "Bisa faktor cuaca, material pesawat, atau kelalaian orang. Namun, dalam kasus ini, saya belum bisa menyimpulkan," katanya.
Sikorsky S-58T merupakan pengembangan dari helikopter S-58 yang dibuat pada 1950-an. Sikorsky adalah pabrik helikopter militer terkenal di dunia. Helikopter tempur Black Hawk yang dipakai Angkatan Udara Amerika Serikat dalam perang Irak yang lalu merupakan salah satu produk andalan Sikorsky.
Beberapa saksi mata menuturkan, pagi itu gerimis tipis mulai menetes di langit Atang Sanjaya. Matahari masih tampak bersinar terang. "Saya melihat helikopter itu tiba-tiba jatuh ke tanah, tapi tak meledak," kata seorang warga Kampung Panglengseran, tempat heli itu jatuh. Sayang, sumber ini tak bisa menjelaskan kesaksiannya lebih lanjut karena ada petugas penjaga pangkalan udara yang terus mengawasinya.
Setelah kecelakaan jenazah sempat dievakuasi ke RS Atang Sanjaya. Namun, sore kemarin, ketujuh jenazah dipindahkan untuk kemudian disemayamkan di salah satu hanggar. Sebagian kerabat korban yang menggelar tahlilan di hanggar yang dingin itu juga enggan dimintai komentar. "Jangan wawancara dulu, kami masih sedih," ujar salah seorang kerabat Prajurit Kepala Sukendar.
Menurut rencana, para korban akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Bahagia Dreded, Bogor, hari ini pukul 10.00 dengan upacara militer.
Kecelakaan heli ini menambah panjang daftar pesawat atau helikopter militer yang jatuh saat menjalankan tugas. Sejak 2001 tercatat delapan kecelakaan yang menimpa pesawat atau helikopter TNI AU dan menewaskan 11 orang. Kecelakaan terakhir adalah jatuhnya pesawat latih jenis Marcetti SP 260 pada 14 Juli 2003 di Waduk Jatiluhur, Padalarang. Untung kecelakaan ini tak menelan korban jiwa.
Sebelumnya, pada Februari 2003 pesawat latih bermesin tunggal Cessna 172 PK-DCM juga hilang di Gunung Ciremai, Majalengka, Jawa Barat. Kecelakaan ini merenggut nyawa tiga orang kru.
Deffan Purnama/Yandhrie Arvian - Tempo News Room
|