|
Jakarta
Jepang Bantu Renovasi Sekolah Luar Biasa
23 Oktober 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta: Kedutaan Besar Jepang di Jakarta memberikan bantuan berupa dana sejumlah US$ 81 ribu atau sekitar Rp 687 juta. Dana tersebut digunakan untuk merenovasi gedung Sekolah Luar Biasa (SLB) Yayasan Zinnia yang terletak di Jalan Tebet Barat I, Jakarta Selatan.
“Dana tersebut berasal dari masyarakat Jepang,” kata Wakil Duta Besar untuk Indonesia, Shigekazu Sato dalam peresmian gedung SLB Zinnia, Kamis (23/10). Pihaknya memberikan bantuan ini karena sangat bersimpatik terhadap Yayasan Zinnia yang secara aktif mengatasi masalah tuna rungu dan tuna grahita di Indonesia khususnya Jakarta.
“Ini merupakan salah satu program kami yang diberi nama bantuan grass root,” kata Sato. Ia menambahkan, program bantuan grass root adalah memberikan bantuan kepada mereka yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup dasar.
Sato berharap dengan diberikannya dana ini maka gedung yang semula rusak berat dan sebagian hampir roboh dapat beroperasi normal kembali sehingga tidak akan menghambat proses belajar-mengajar.
Sementara itu, Ketua Yayasan Zinnia Imas AR Gunawan mengungkapkan, ia menerima bantuan ini setelah mengirim surat kepada Kedutaan Besar Jepang. “Awalnya tidak digubris, namun pada ulang tahun yayasan ini yang ke-25 yang jatuh pada bulan Oktober 2002, salah seorang wakil dari kedutaan datang dan melihat sendiri kondisi sekolah ini,” kata Imas.
Akhirnya, yayasan tersebut diminta untuk membuat proposal resmi kepada pemerintah Jepang. Kemudian pada Maret 2003, disepakati proyek renovasi yang seluruh biayanya ditanggung oleh pihak Jepang. “Proyek ini sebenarnya untuk satu tahun namun, Alhamdulilah dalam waktu tujuh bulan sudah selesai,” kata Imas.
Selain untuk renovasi, dana tersebut juga digunakan untuk membeli peralatan sekolah seperti hearing aid dan alat latihan berbicara.
Gedung SLB Zinnia, pertama kali dibangun dan diresmikan pada 1982 oleh Gubernur DKI saat itu Tjokropranolo. Berdiri di atas lahan 2.500 meter persegi denga luas bangunan 900 meter persegi. Terdiri satu lantai dengan jumlah 20 ruangan. Termasuk ruang perpustakaan, guru, kantin dan ruang latihan dengar.
Saat ini ada 80 siswa yang tuna rungu dan tuna grahita belajar di Yayasan Zinnia. Terdiri dari TK luar biasa sampai SMU luar biasa. “Rata-rata mereka berasal dari keluarga yang kurang mampu,“ kata Imas.
Poernomo Gontha Ridho - Tempo News Room
|