TEMPO Interaktif, Jakarta:TNI Angkatan Laut telah memeriksa kemungkinan keterlibatan anggota marinir yang melindungi tersangka pembunuh bos PT Asaba, Gunawan Santoso, selama dalam pelarian. Tapi hingga kini, TNI belum menemukan adanya keterlibatan anggota marinir lain tersebut.
Komandan Polisi Militer TNI Angkatan Laut (Danpomal) Brigadir Jenderal Marinir Soenarko GA menyatakan pihaknya telah mendengar informasi adanya keterlibatan anggota TNI AL, khususnya marinir, membantu Gunawan selama melarikan diri. Sebelum adanya informasi itu, lanjut dia, pihaknya telah melakukan pemeriksaan terhadap seluruh anggota TNI AL.
"Tanpa disuruhpun, saya akan membersihkan semua yang terlibat," kata Soenarko sesuai acara peninjauan rumah dinas TNI bantuan presiden, di Ciangsana Gunung Putri, Bogor, Kamis (18/9) siang.
Soenarko mengakui, pihaknya telah menyusun rencana untuk memperdalam kasus pembunuhan bos Asaba Boedyharto Angsono dan pengawalnya Serka Edy Siyep dengan mengembangkan pemeriksaan terhadap adanya tersangka lain. Untuk itu, lanjutnya, TNI telah menelusuri dan memeriksa semua anggota TNI AL. "Tapi sampai hari ini saya belum menemukannya," ujarnya.
Seperti diketahui, Boedyharto bersama pengawalnya tewas ditembak di halaman parkir Gelanggang Olahraga Pluit, Jakarta Utara, 19 Juli lalu. Belakangan, empat anggota marinir yaitu Kopral Dua Marinir Suud Rusli, Kopral Dua Marinir Fidel Husni, Letnan Dua Marinir Syam Ahmad Sunusi, dan Pratu Santoso Subiyanto, menyerahkan diri ke kesatuannya dan mengaku sebagai pelaku penembakan.
Suud Rusli yang merupakan eksekutor penembakan juga mengaku mereka disuruh dan dibayar oleh Gunawan, bekas menantu Boedyharto, untuk melakukan perbuatan itu. Pekan lalu, Gunawan berhasil ditangkap oleh polisi dari Polda Metro Jaya di tempat kosnya, Kemayoran, Jakarta. Selama melarikan diri, Gunawan diduga dilindungi oleh beberapa anggota TNI. "Berita dari mana itu. Saya tidak ngerti," kata Soenarko membantah dugaan tersebut.
Soenarko menambahkan, dari hasil sementara pemeriksaan yang dilakukan belum ada indikasi adanya keterlibatan anggota TNI atau marinir lain dalam membantu Gunawan.
Kepala Staf TNI AL Laksamana Bernard Kent Sondakh juga membantah adanya keterlibatan anggota marinir lain di luar empat tersangka yang saat ini telah ditahan Pomal. "Tidak ada. Belum ada lagi sampai sekarang dari lingkungan TNI atau marinir (yang terlibat)," katanya di tempat yang sama. Tapi dia tetap membuka kemungkinan, adanya keterlibatan anggota TNI lain dengan Gunawan. "Siapa tahu nanti ada," katanya.
Selain itu Kent Sondakh juga menyatakan, Pomal telah selesai memproses dan memeriksa keempat tersangka marinir. Berkas pemeriksaan yang sedianya akan diserahkan kepada oditur militer ditunda karena akan dilengkapi dengan pemeriksaan atas Gunawan. "Ada marinir kami yang diperiksa oleh polisi, dan kami juga minta polisi 'meminjamkan' Gunawan untuk melengkapi keterangan dan berkas pemeriksaan," katanya.
Nantinya, kata Sondakh, Pomal akan mempertemukan keempat marinir itu dengan Gunawan untuk pemeriksaan silang. Tapi hingga kini, lanjut dia, pihaknya belum memeriksa Gunawan karena polisi belum selesai melakukan pemeriksaan. "Saya tidak bisa tentukan waktunya kapan," kata dia.
Sondakh berharap Gunawan dijatuhi hukuman seberat-beratnya seperti dihukum mati atau penjara seumur hidup. "Saya mau tempeleng dia. Saya juga pesan, orang seperti dia dihukum seberat-beratnya, digantung atau ditembak mati," katanya. Karena, akibat perbuatan Gunawan tersebut banyak pihak yang telah dirugikan dan menjadi korban.
"Berapa istri dan anak yang telah kehilangan suami dan bapak," kata Sondakh. Selain itu, hukuman berat akan membuat orang jera untuk menjadikan aparat keamanan sebagai alat perlindungan atau 'beking'. "Sehingga tidak ada lagi yang punya uang bisa memakai tentara," katanya.
Yura Syahrul - Tempo News Room