|
Metro
Pelajar Diserang dengan Panah
04 September 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta: Sekitar 30 orang pelajar SMU 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu (3/9) petang, diserang sekelompok pelajar di Jalan Yos Sudarso, Jakarta Utara. Dalam peristiwa, satu korban luka tertembus anak panah sedalam 21 cm di pinggang sebelah kiri dan dirujuk ke RS Cipto Mangunkusumo.
Korban, Sirma Yanuar, 16 tahun, warga Jalan Sungai Citanduy, Semper, Cilincing Jakarta Utara, pelajar kelas I SMU 72, saat kejadian berada dalam posisi menggantung di luar pintu mobil Mayasari Bakti P 51 jurusan Pulo Gadung-Tanjung Priok.
Saat itu Sirma dan kawan-kawannya tengah naik bus setelah pulang sekolah dari arah Cawang ke arah Tanjung Priok. Tiba di tempat kejadian mereka diserang oleh sekelompok anak sekolah lain berpakaian preman yang disinyalir dari STM Perguruan Cikini Tanjung Priok.
Menurut keterangan teman korban, Jan Andrederson, 16 tahun, saat itu rombongan penyerang berteriak menyebut STM Perguruan Cikini berulang-ulang. Mereka bertemu dengan rombongannya di bis tersebut tepat di depan kantor walikota Jakarta Utara.
“Kami di mobil saat itu minta berdamai saja,” kata Jan. Namun saat itu, mereka langsung diserang oleh kelompok tersebut. Diapun mengaku terkena pukulan gesper rombongan tersebut.
Sementara itu Sirma yang berada dalam kondisi menggantung tiba-tiba roboh tertembus anak panah yang diluncurkan dari rombongan penyerang yang memakai sepeda motor. Mobil yang ditumpanginya, yang sedang melaju, saat itu langsung berhenti. Sementara penyerang langsung kabur ke arah Tanjung Priok.
Jan saat itu juga langsung melapor ke Polrestro Jakarta Utara yang kebetulan jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat kejadian. Sementara korban dibawa ke RS Koja Jakarta Utara. Bersama polisi, Jan saat itu bisa menangkap penyerang yang masih konvoi dengan motor di daerah Warakas, Jakarta Utara.
Penangkapan tersebut berhasil karena saksi mengenal beberapa pelaku penyerangan tersebut. Empat orang yang dibekuk antara lain Bambang, Adi, Dogeng, dan Keple, siswa STM Perguruan Cikini, Tanjung Priok.
Sementara itu, juru bicara SMU 72 Mulyadi, 40 tahun, yang ditemui di ruang kerjanya Kamis (4/9) siang menyatakan sebenarnya selama ini siswa sekolah tersebut tidak pernah memiliki musuh. Ia menganggap hal tersebut sebagai musibah. Meski demikian, ia mengaku telah melakukan pembicaraan dengan pihak sekolah STM Perguruan Cikini. “Tadi pagi kepala sekolah tersebut datang ke sekolah kami meminta maaf,” ujarnya.
Danto - Tempo News Room
|