TEMPO Interaktif, Jakarta:Presiden Direktur PT Asaba, Boediharto Angsono, 60 tahun, menemui ajal setelah ditembak orang tak dikenal, Sabtu (19/7) pagi. Nasib naas juga menimpa Edi Siyet, 33 tahun, seorang anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) berpangkat Sersan Dua yang mengawal Budi. Peristiwa ini terjadi di halaman parkir gedung olah raga (GOR) Sasana Krida, Jalan Jembatan III nomor 1 Penjaringan Utara, Jakarta, pukul 05.30 WIB.
Menurut keterangan sopir korban, Darjan (50), pagi itu Budi, yang biasa dipanggil Aang, pergi dari kediamannya di apartemen Syailendra, Mega Kuningan, menuju GOR untuk bermain basket. “Pak Aang sudah puluhan tahun main basket di GOR,” ujarnya. Ia menambahkan, majikannya mempunyai jadwal rutin bermain basket setiap Selasa, Kamis dan Sabtu.
Setibanya di lokasi, kata Darjan, Edi yang duduk di depan membukakan pintu mobil Mersi S 600 untuk Budi yang duduk di belakang. Saat itulah, seorang tak dikenal menembak bagian belakang kepala Edi sebanyak dua kali. Edi langsung tersungkur di dekat ban belakang mobil sebelah kiri. Melihat penembakan itu, Aang berusaha menyelamatkan diri melalui pintu yang telah dibuka Edi.
Namun, baru sepuluh meter melangkah, pelaku menembak punggung Aang, juga sebanyak dua kali hingga tersungkur. Untuk memastikan korban telah tewas, pelaku menghampirinya dan kembali menembakkan senjata sebanyak empat kali.
Pelaku yang menggunakan jaket hitam, lanjut Darjan, langsung melarikan diri. “Jumlah pelaku dua orang. Yang satunya hanya menunggu di motor dengan mengenakan tutup kepala.” Kemudian, Darjan langsung berteriak meminta tolong dan berlari menuju pos polisi Pluit yang berjarak sekitar 30 meter dari pintu GOR. Di pos polisi, Darjan langsung membangunkan Wasmo, petugas banpol yang sedang tidur.
Saksi lainnya, Atek (46) menuturkan, tidak lama setelah teriakan Darjan, petugas Kepolisian Sektor Penjaringan langsung mengamankan tempat kejadian perkara. “Kedua korban segera dibawa ke RSCM,” katanya. Ia juga mengatakan, posisi Aang yang mengenakan kaos oblong, celana pendek dan sandal didapati berada dalam posisi menyamping, sedangkan Edi yang jatuh telentang mengenakan kaos putih dan celana panjang hitam.
Saat ini, Aang sudah dibawa ke rumah duka di RS Dharmais, Jakarta Barat. sedangkan Edi telah berada di rumanhya, Cijantung, Jakarta Timur. Menurut keterangan Kepala Polsek Penjaringan, Komisaris Polisi Krisna Mukti, di lokasi kejadian ditemukan delapan selongsong peluru. Ketika ditanya mengenai jenis senjata yang digunakan, Krisna enggan menjawab. “Perkara ini sudah ditangani Polres Jakarta Utara,” katanya di ujung telepon.
Secara terpisah, Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Jakarta Utara, Komisaris Polisi Andap Budi Revianto mengatakan, pihaknya masih melakukan pengembangan kasus setelah memeriksa tiga orang yakni Darjan, Atek dan Sukra, seorang tukang ojek. Andap mengatakan dirinya belum dapat memastikan adanya unsur balas dendam. "KAmi minta waktu, masih perlu diperdalam," katanya. sedangkan jenis senjata yang digunakan pelaku sampai saat ini belum diketahui. Selongsong peluru yang ditemukan sudah dikirim ke Puslabkrimfor Mabes Polri.
Barang bukti yang telah dikumpulkan adalah kendaraan korban bernomor polisi B 899 berwarna biru metalik, senjata api yang diduga milik Edi, delapan selongsong peluru dan jaket anti peluru milik edi yang tidak pakainya saat kejadian.
Sementara itu sumber Kopassus yang berada di lapangan, membantah bahwa Edi Siyet merupakan pengawal Aang. Edi, kata sumber yang menolak disebut jati dirinya, sudah lama berteman dengan Dirut Asaba. Dan Sabtu pagi itu, menurut dia, Edi kebetulan saja menemani Aang bermain basket. Sumber itu membantah ada permintaan khusus dari Asaba kepada Kopassus soal pengamanan dan pengawalan.
Soal terakhir ditanyakan, sebab penembakan terhadap Aang mengingatkan peristiwa serupa yang hampir menewaskan Direktur Keuangan PT Asaba, Paulus Teja Kusuma awal Juni lalu. Paulus ditembak orang tak dikenal saat terjebak kemacetan di jalan Angkasa, tepat di depan Hotel Golden, Jakarta Pusat, Jumat (6/6) pagi.
Saat itu polisi menduga penembakan dilakukan oleh orang berpengalaman. “Tidak menutup kemungkinan ini merupakan kasus yang menggunakan pembunuh bayaran.” kata Kepala Bagian Humas Polda Metro Jaya, Prasetyo, Senin (9/6) lalu. Hal itu terjadi, ujarnya, karena eksekusi penembakan langsung dilaksanakan di tempat kejadian perkara.
(Yandhrie Arvian/Dewi Retno/Adek – TNR)