TEMPO Interaktif, Jakarta:Manajemen America Chili’s Restaurant meminta Dinas Pendapatan Daerah DKI Jakarta memeriksa kembali data pajak restoran itu, sebab pihak manajemen yakin data penunggak pajak yang dikeluarkan dinas itu salah. “Mereka setiap tahunnya memeriksa pajak kita, dan hasilnya nihil karena kita sudah melunasinya,” kata Asisten General Manager America Chili’s Restaurant Puja Dewantara saat dihubungi melalui telepon, Sabtu (13/7) siang.
Puja mengungkapkan hal itu menanggapi keterangan Kepala Dinas Pendapatan Daerah DKI Jakarta Deden Supriyadi tentang 17 surat paksa yang telah dikirimkan kepada pengelola hotel, restoran, tempat hiburan penunggak pajak. Mereka adalah sebagian kecil dari penunggak pajak yang namanya telah diumumkan Dinas Pendapatan pada 20 Juni lalu. Dinas Pendapatan menyebut ada 600 perusahaan yang mengutang pajak dengan nilai mencapai Rp 57 miliar.
Tercatat dalam daftar 17 perusahaan yang menerima surat paksa itu America Chili’s Restaurant. Berdasarkan data dinas ini, pada 1999 restoran bermenu ala Amerika ini menunggak pajak Rp 229.842.956. Untuk 2000 dan 2002 masing-masing Rp 204.757.849 dan Rp 126.013.017. Selain surat paksa, Dinas Pendapatan DKI sudah menyiapkan 85 juru sita. Jika sampai batas waktu yang ditentukan tetap tidak membayar, Deden mengancam akan melakukan penyitaan.
Puja mengklaim restoran yang dikelolanya secara rutin menyetorkan pajak setiap bulan. Buktinya, kata dia, adanya bill korporasi America Chili’s yang dicap oleh Dinas Pendapatan. Bukti ini telah dibawa oleh petugas Dinas Pendapatan ketika mereka memeriksa kewajiban pajak restoran ini beberapa waktu lalu.
Namun, menurut Puja, setelah pemeriksaan Dinas Pendapatan mengeluarkan data tidak sama dengan data korporasi. “Saya tidak tahu bagaimana cara mereka menghitung hingga keluar angka sebesar itu,” keluhnya.
Puja menyatakan pihaknya tidak takut dengan ancaman sita dari Dinas Pendapatan. Dia mengatakan pihaknya akan membawa masalah ini ke Lembaga Penyelesaian Perselisihan Pajak jika Dinas Pendapatan tetap ngotot menyita. “Kami tidak takut, karena kami tidak salah kok.” (Sri Wahyuni-Tempo News Room)