Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Iptek  
  Internasional  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Metro

Pembangunan Kota Kurang Perhatikan Dampak Lingkungan
06 Juni 2003

TEMPO Interaktif, Jakarta: Pembangunan di perkotaan, menurut Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Kontraktor Pertamanan Nasional (Aspertanas) Adrian Sitorus, banyak yang bermasalah. Salah satu masalahnya, kata dia, pembangunan itu tidak memperhatikan lingkungan.

"Kehadiran Aspertanas sangat diharapkan memberikan warna di masyarakat, yaitu menciptakan keindahan, kenyamanan lingkungan dan kesejukkan," kata Adrian di acara rapat organisasinya itu, Jumat (6/6).

Padahal, pembangunan apa pun bentuknya, harus diintegrasikan dalam keramahaan lingkungan. Lingkungan yang dimaksud tidak hanya kelestarian alam, tapi juga menyangkut masa depan kehidupan semuah komunitas mahluk hidup yang ada di sekitarnya.

Bambang menambahkan, kondisi sekarang sangat menyedihkan bila para pengambil kebijakan menempatkan lingkungan hidup sebagai sekadar isu pinggiran. Taman kota di Jakarta, misalnya, arealnya sangat kurang karena hilang akibat peruntukan bangunan yang keliru. Belum lagi kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh polusi udara yang dihasilkan asap kendaraan bermotor.

Di sisi lain, "Secara naluri kita semua perlu menata taman," sergah Ning Poernomohadi, salah satu pendiri Aspertanas. Menurut dia, taman yang sudah ada kebanyakan dialihkan fungsi. "Akibatnya, persepsi orang tentang pertamanan kurang sekali," ujarnya lagi.

Ning menambahkan, secara psikologis dan edukatif melihat taman yang hijau itu akan menimbulkan kenyamanan. Selain itu, lapangan hijau ruang gerak anak untuk bermain berkurang. "Tidak ada keseimbangan kebutuhan utama dan rekreasi," katanya.

Di Jakarta, ruang hijau kota terus menyusut. Idealnya, Ibu Kota memiliki sekitar 13 persem ruang hijau dari luas wilayah yang ada. Saat ini ruag hijau terbuka tinggal sekitar 9 persen. Pemerintah DKI berusaha memenuhi kebutuhan ideal kawasan hijau tersebut. Namun, sering kali izin pendirian bangunan (IMB) yang diterbitkan mencaplok lahan hijau. (Agriceli—Tempo News Room)




Kirim Komentar   | Baca Komentar

 

 

dibuat oleh danendro : Radja
Berita Terkait

 
Berita jakarta Lainnya

Direksi Prudential Akan Diadukan Ke Polisi
(Rabu, 28/04/2004 | 21:53 WIB)
Warga SLTPN 56 Tetap Bertahan
(Rabu, 28/04/2004 | 19:40 WIB)
Pemda DKI Jakarta Laporkan Nurlaila ke Polisi
(Rabu, 28/04/2004 | 17:56 WIB)
RSCM Dilaporkan ke Polda Metro Jaya
(Rabu, 28/04/2004 | 14:19 WIB)
Danareksa Minta Hacker KPU Selesaikan Kontrak Kerja
(Selasa, 27/04/2004 | 19:35 WIB)
Ratusan Pedagang Pasar Baru Bekasi Bingung
(Selasa, 27/04/2004 | 17:12 WIB)
Joki Three in One Modus Baru Kejahatan
(Selasa, 27/04/2004 | 17:01 WIB)
90 Persen PDAM ‘Sakit’ Akan Diprivatisasi
(Selasa, 27/04/2004 | 16:18 WIB)
500 Karyawan Prudential Unjuk Rasa di PN Pusat
(Selasa, 27/04/2004 | 15:40 WIB)
Berkas Pemalsuan KTP Gunawan Dilimpahkan
(Selasa, 27/04/2004 | 15:12 WIB)

Index Berita





 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data