TEMPO Interaktif, Jakarta: Pembangunan di perkotaan, menurut Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Kontraktor Pertamanan Nasional (Aspertanas) Adrian Sitorus, banyak yang bermasalah. Salah satu masalahnya, kata dia, pembangunan itu tidak memperhatikan lingkungan.
"Kehadiran Aspertanas sangat diharapkan memberikan warna di masyarakat, yaitu menciptakan keindahan, kenyamanan lingkungan dan kesejukkan," kata Adrian di acara rapat organisasinya itu, Jumat (6/6).
Padahal, pembangunan apa pun bentuknya, harus diintegrasikan dalam keramahaan lingkungan. Lingkungan yang dimaksud tidak hanya kelestarian alam, tapi juga menyangkut masa depan kehidupan semuah komunitas mahluk hidup yang ada di sekitarnya.
Bambang menambahkan, kondisi sekarang sangat menyedihkan bila para pengambil kebijakan menempatkan lingkungan hidup sebagai sekadar isu pinggiran. Taman kota di Jakarta, misalnya, arealnya sangat kurang karena hilang akibat peruntukan bangunan yang keliru. Belum lagi kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh polusi udara yang dihasilkan asap kendaraan bermotor.
Di sisi lain, "Secara naluri kita semua perlu menata taman," sergah Ning Poernomohadi, salah satu pendiri Aspertanas. Menurut dia, taman yang sudah ada kebanyakan dialihkan fungsi. "Akibatnya, persepsi orang tentang pertamanan kurang sekali," ujarnya lagi.
Ning menambahkan, secara psikologis dan edukatif melihat taman yang hijau itu akan menimbulkan kenyamanan. Selain itu, lapangan hijau ruang gerak anak untuk bermain berkurang. "Tidak ada keseimbangan kebutuhan utama dan rekreasi," katanya.
Di Jakarta, ruang hijau kota terus menyusut. Idealnya, Ibu Kota memiliki sekitar 13 persem ruang hijau dari luas wilayah yang ada. Saat ini ruag hijau terbuka tinggal sekitar 9 persen. Pemerintah DKI berusaha memenuhi kebutuhan ideal kawasan hijau tersebut. Namun, sering kali izin pendirian bangunan (IMB) yang diterbitkan mencaplok lahan hijau. (Agriceli—Tempo News Room)