|
Metro
Guru Teladan SLTP 56 Berkelahi dengan Rekan Kerjanya
28 Mei 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta:Dua orang guru SLTPN 56 berkelahi setelah terlibat cekcok mulut di ruang guru sekolah, Jalan Jeruk Purut, Jakarta Selatan, pada Rabu (28/5) pagi. Diduga perkelahian tersebut dipicu oleh persoalan ruilslag lahan SLTP 56 yang dilakukan oleh Depdiknas dengan PT Tata Disantara, perusahaan milik Abdul Latief. Kasus ruilslag ini sendiri kini sedang bergulir di Pengadilan Jakarta Selatan.
Kasus perkelahian antarguru itu kini ditangani pihak Kepolisian Sektor (Polsek) Metro Pasar Minggu. Daryo, guru keterampilan, mengalami luka memar di dahi, bibir kiri atas pecah, hidung dan telinganya dicakar. Dia telah mengadukan Abdul Kadir, guru fisika yang meraih gelar sebagai guru teladan Jakarta Selatan pada 2002, ke Polsek Metro Pasar Minggu.
Lies Sugeng, Juru Bicara Persatuan Orangtua Murid (POMI) mengatakan, perkelahian itu ada kaitannya dengan kasus ruilslag. Sebab sejak ada ruilslag antara Depdiknas dan PT Tata Disantara, milik Abdul Latief, para guru terpecah. Guru yang pro-ruilslag pindah ke Jeruk Purut, sedangkan yang kontra-ruilslag tetap bertahan di Melawai.
Namun, Daryo membantah bahwa persoalan antara dirinya dan Abdul Kadir dipicu oleh persoalan ruilslag. "Persoalan saya dengan Kadir tidak ada sangkut-pautnya dengan ruilslag," kata Daryo setelah melaporkan kasusnya.
Menurut Daryo, peristiwa yang terjadi sekitar pukul 08.00 WIB bermula ketika Daryo masuk ke ruang guru, tiba-tiba ia mendengar Abdul Kadir ngomong, "Termasuk Daryo itu garong," katanya di depan para guru yang saat itu sedang berada di ruang guru. Daryo menimpali ucapan itu dengan kalimat, "Kalau saya garong, Bapak maling." Kadir menyahut lagi, "Maling lebih terhormat daripada garong." Selanjutnya, percekcokan itu tambah memanas. Bekas wakil kepala sekolah di sekolah yang sama itu mendekati Daryo dan nyaris memukulnya, namun beberapa guru sempat menghalanginya dan meminta Daryo keluar ruangan.
Namun, tak lama setelah itu, Daryo bertemu lagi dengan Kadir di samping musala sekolah. Kadir langsung menghampiri Daryo dan mengatakan, "Kamu marah betul?" Daryo pun menjawab, "Iya, saya marah." Saat itulah, menurut Daryo, Kadir memukulnya hingga dia terjerembab bersama map yang sedang dipegangnya. Selanjutnya, kata Daryo, Kadir memitingnya. Lalu, keduanya berkelahi sampai terguling-guling di tanah.
Emi, salah seorang guru, berusaha melerai, tapi tidak mampu. Lalu, ia berteriak-teriak minta bantuan. Tak lama kemudian para guru datang dan melerai mereka. Perkelahian itu berhasil dilerai, namun Daryo terluka dengan darah mengucur di dahinya. (Eni Saeni/Listi Fitria—Tempo News Room)
|