|
Metro
Mengais Rezeki di Hari Idul Adha
10 Pebruari 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta:Sapi dan kambing kembali muncul di berbagai sudut jalan di Jakarta. Maklum, Hari Raya Idul Adha telah tiba. Sebuah hari bagi umat Islam untuk berkurban. Namun, ia juga merupakan hari bagi pedagang ternak mengeruk keuntungan.
Pedagang sapi kurban di Jalan Otto Iskandarmuda, Jatinegara, Jakarta Timur, bernama Edy, misalnya, sepanjang hari Senin (10/2), telah menjual tujuh ekor sapi. Pria bertubuh tinggi, berkulit kehitaman dan berkacamata ini mengaku, “Biasanya laku kalau mendekati hari raya.”
Sapi-sapi tersebut dijual pria berusia 38 tahun itu dengan harga bervariasi antara Rp 5 juta hingga Rp 7 juta. Harga itu didasarkan pada berat sapi yang telah di tes kesehatan oleh Suku Dinas Kesehatan, DKI jakarta. Untuk itu, Edy harus mengeluarkan kocek Rp 25 ribu per ekor.
Tak hanya itu, Edy juga harus memberikan "uang receh" kepada petugas trantib, biaya makan ternak, transportasi dan ongkos kerja empat anak buahnya. Untuk membeli rumput saja, pria yang juga berprofesi sebagai tukang jagal ini mengaku harus mengeluarkan uang Rp 400 ribu. “Ya sekalian amal,” kata dia sambil memandangi sapi-sapi yang diikat pada tiang-tiang pagar di tepi jalan.
Jika dihitung secara total, Edy harus mengeluarkan Rp 5 juta untuk ke-22 sapi dagangannya. Angka itu memang cukup tinggi, tapi itulah yang terjadi selama 18 tahun menjalani bisnis dagang sapi korban. Terkadang, Edy bahkan harus berhadapan dengan kenyataan yang lebih pahit, seperti tahun lalu. “Saya merugi sampai Rp 6 juta. Tetapi, namanya juga cari rezeki,” kata Edy.
Edy juga berkisah, terkadang sapinya yang diambil dari daerah Jawa Timur itu tidak habis terjual. Maka, Edy juga sering harus menyembelih sendiri sapi yang tak laku itu. Lantas, dagingnya disalurkan kepada para pedagang daging di pasar.
Berbeda dengan Edy, Rosyid, pedagang domba dan kambing di tempat yang sama mengaku akan mengembalikan dagangannya yang tak laku kepada pengusaha di Cilacap, Jawa Tengah. Kini, bersama delapan teman sejawatnya, Rosyid masih menunggu "nasib" seratus kambing asal Cilacap itu. Jika ludes terjual, Rosyid bisa bernafas lega dan tak perlu mengirim kembali kambing itu ke daerah asalnya.
Rosyid dan temannya menjual kabing itu secara menyebar dan dibagi dalam tiga kelompok. Untuk kelompok pertama di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, dijaga dua orang temannya. Begitu juga dengan kelompok lain yang ada di Cipinang Cipedak. Dua orang teman Rosyid juga bertugas menjaga kambing disana. Sedangkan empat teman Rosyid lainnya bertugas bersama dirinya di Jatinegara.
Kambing-kambing itu dijual dengan harga antara Rp 500 ribu untuk kambing dengan berat 10 kilogram hingga Rp 1,25 juta untuk kambing dengan berat 30 kilogram. Padahal, juragannya yang tinggal di Cilacap membeli masing-masing kambing itu dengan harga serupa, Rp 500 ribu perekor. Tidak perduli kambing itu besar atau kecil.
Rosyid dan teman-temannya tampak begitu sabar melayani para pembeli, sepanjang siang itu. “Rata-rata pembeli menitipkan hewan ini sampai hari H-nya datang,” kata pria asli Jakarta ini.
Hingga sehari menjelang hari raya Idul Adha sebagaimana ditetapkan sebagian umat Islam, 20 ekor kambing Rosyid telah berpindah kepemilikan. Rosyid yang sehari-harinya bekerja serabutan ini mengaku telah tiga tahun melakoni pekerjaan sebagai penjual kambing kurban. Selama ini, dia tidak perlu mengeluarkan uang untuk mendapatkan makanan ternak maupun uji kesehatan ternak dagangannya itu. Sebab, semuanya sudah disediakan oleh sang juragan. “Saya cuma modal nekat,” tuturnya tentang modal yang diperlukan untuk usaha itu.
Selama ini, kata Rosyid, dirinya bekerjasama dengan pengusaha. Sistem pembagian keuntungan dilakukannya dengan cara bagi hasil. Dari penjualan itu, Rosyid memperoleh 50 persen dari seluruh keuntungan. Ya, Rosyid merasa cukup puas dengan hasilnya tersebut. (Purwanto-Tempo News Room)
|