|
CINCIN API
Selasa, 19 April 2005 | 00:49 WIB
Gunung Talang di Sumatera Barat dan empat gunung berapi di Jawa- Anak Krakatau,
Tangkuban Perahu, Semeru, dan Merapi-tiba-tiba lebih aktif dari biasanya.
Aktifitas itu tak bisa lepas dari keberadaan cincin api.
Cincin api berhubungan dengan palung samudra, jajaran gunung berapi, dan
pergerakan lempeng. Di area inilah gempa bumi dan muntahan gunung berapi
kerap terjadi
|
| Pergerakan
dan tumbukan antarlempeng tektonik kerap terjadi di area cincin api |
 |
 |
 |
 |
Sebanyak
81 persen gempa bumi besar terjadi di lintasan cincin api. Dari jumlah
itu, 17 persen di antaranya terjadi di ikat pinggang Alpine yang merentang
dari Flores, Bali, Jawa, Sumatra, Himalaya, Layt Tengah, lalu keluar
ke Samudra Atlantik. |
|
| Gempa
bumi yang disertai gelombang tsunami pada Desember 2004 di Nias terjadi
di wilayah ikat pinggang Alpine |
 |
Cincin
api melintang 40 ribu kilometer. |
|
| 1 |
Anak
Krakatau
Tinggi: 235 m dpl. Saat normal gempa vulkanik Gunung Krakatau yang
tercatat 2-9 kali per hari. Sejak Rabu (13/4) aktivitasnya meningkat
rata-rata 32 per hari. Anak Krakatau berasal dari bekas Gunung Krakatau
yang meletus hebat pada 1683 dan menewaskan 36 ribu penduduk |
Tekanan
magma mendorong Anak Krakatau terus tumbuh.
 |
| 2 |
Gunung
Talang
Hingga kemarin, aktivitas yang terlihat meningkat mulai Ahad lalu
belum bisa dikatakan telah menurun. Meski begitu, jika sebelumnya
letusan gunung itu memuntahkan material ke ketinggian 500-1500m,
sekarang tinggal sekitar 250 m.
|
| 3 |
Gunung
Tangkuban Perahu
Tinggi: 2084m dpl. Dalam kondisi normal gempa vulkanik yang tercatat
seismograf 2-7 kali per hari. Pada Rabu pukul 00.00-05.48 WIB, seismograf
mencatat terjadinya ratusan gempa vulkanik.
|
| 4 |
Gunung
Merapi
Tinggi: 2.911 m dpl
Meletus 68 kali sejak 1548
Lokasi: 30 km dari Yogya
Status: Waspada (level 2)
|
| 5 |
Gunung
Semeru
Tinggi: 3.676 m dpl
Lokasi: Antara Malang dan Lumajang, Jawa Timur
Meletus 55 kali sejak 1818
Status: Waspada (level 2) |
EFEK
DOMINO
Syamsul Rizal, Kasubdit Pengawasan Gunung
Api Wilayah Timur Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana
Geologi meyakini meningkatnya beberapa status gunung api di
wilayah barat Indonesia merupakan efek domino dari gempa yang
terjadi di Nias. "Logika yang masuk akal adalah karena
efek domino gempa Nias," kata Syamsul di Bandung. |
 |
 |
 |
| Bergeraknya
lempeng subduksi yang menyebabkan gempa di Nias dan Mentawai
mengakibatkan perubahan tekanan magma |
 |
| Magma
merembes ke dalam kantong-kantong air di bawah permukaan
bumi |
|
|
| Akumulasi
gas yang tidak stabil itu menekan dinding gunung sehingga
dindingnya ikut bergerak dan terekan seismograf. Sebagian
besar gempa hanya terasa seismograf karena besarnya kurang
dari 2 skala Richter |
| Tekanan
gas di bawah gunung meningkat |
| Air
yang dipanaskan berubah menjadi gas dan terkumpul di dalam
bumi. Di beberapa tempat, kantong-kantong gas yang berada
di bawah perut gunung itu, dalam hal ini Tangkuban Perahu,
berisi gas karbon dioksida (CO2) dan gas belerang (H2S) |
|
|
|