Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Info Grafis  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
   

Suatu Malam Jauh di Selatan
Jum'at, 08 April 2005 | 14:53 WIB

Foto: TEMPO/SANTIRTA M.


PADA serangkum malam, ia terbaring. Dua tungkai, saling tindih. Lebam di sekujurnya. Aorta yang pecah dan darah yang menggenang. Di atasnya, kayu-kayu menindih.

Hari belum lagi jadi di Gunung Sitoli, Nias. Jam berhenti sebelum malam sampai di puncak. Senin pekan lalu, 23.10 WIB. Dua tungkai itu, entah milik siapa, seperti mengulang selarik sajak Bertolt Brecht:

In the dark times
Will there also be singing?
Yes, there will also be singing
About the dark times

Kurang dari 100 hari, bencana itu terulang. Nias, pulau di pinggir selatan Sumatera itu, terguncang hebat. Sebelumnya, hanya sejengkal dalam peta, Aceh lantak oleh tsunami.

Dibandingkan dengan Aceh, korban Nias memang tak banyak. Tapi bencana--juga rasa sakit--tak pernah bisa dibandingkan.

Di kamp penampungan, seorang lelaki meratapi istrinya yang menjadi mayat. Selembar kain menutupinya. Lilin-lilin menyala. Tanpa panas, hanya redup cahaya. Ia meraba pipi perempuan itu. Dingin.

Seperti ingin dikenangnya masa lalu. Ketika mereka masih bersama: jatuh cinta, bertengkar, bersilang kata. Perpisahan datang begitu cepat. Ingin dia menangis. Tapi sia-sia.

Setumpuk dusun yang cantik musnah. Gempa 8,7 skala Richter menggada. Seribu orang, mungkin lebih, diperkirakan tewas. Yang hidup berkumpul di pinggir jalan-jalan yang patah.

Seluruh cerita tentang keindahan Tano Niha--nama lain Nias--raib. Pantai Sorake dan Lagundri, atraksi lompat batu, rumah-rumah adat yang tua dimakan usia. Di Nias, waktu berhenti tiba-tiba.

Inikah sedu penghabisan? Tak ada jawaban. Yang tersisa hanya puing, tubuh yang litak, tanah yang kehilangan harapan. Di sana, di sebuah pulau, jauh di selatan.

Arif Zulkifli



Helikopter milik tentara Singapura siap membawa korban gempa Nias ke Medan


Seorang ayah membawa jenazah anaknya di sebuah kamp pengungsian darurat



Bantuan bahan makanan dari Helikopter Chinook RSAF Singapura


 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Gempa Di Sumatera Utara Mulai Reda, Sumbar Waspada
Zeni AD : Kesiapan Alat TNI Hanya 40 persen
Menkes : Cuma Proses Evakuasi Mayat
Isu Gempa, Pekerja di Jakarta Tak Terpancing Isu Gempa
Pengusaha Sisihkan Keuntungan Bantu Korban Bencana
Jakarta Diisukan akan Terjadi Gempa
Wagub Akui Bantuan ke Nias Selatan Sangat Kurang
Diare, Kasus Baru Pengungsi di Nias
Warga Nias Mulai Bangkit
Ratusan Relawan Asing Masuk Melalui Bandara Polonia
> selengkapnya...


Referensi

Gempa Selama 2005
Pengungsi Palsu dan Konflik di Seputar Tenda
Sebulan Hanya Bengong dan Melamun
Kisah Sedih di Hari Minggu
Keppres RI No. 3 Tahun 2001 Tentang Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi
Suatu Malam Jauh di Selatan
Rumah Instan Tahan Gempa
PETAKA
> selengkapnya...

Website

Info Penyakit Menular
Blog Khusus Tsunami Aceh
Palang Merah Indonesia
Kementerian Riset dan Teknologi
Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional
> selengkapnya...


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [1]

Berita Terakhir

Indeks Masih Berpotensi Melemah
Afrika Selatan: Kami Siap untuk Piala Dunia 2010
Jabodetabek Berawan
Anomali Kesebelasan Kroasia
Hari Ini PKB Gus Dur Alan Duduki Kantor KPU

<< April,2005>>
MSnSl RK JS
     01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data