Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Petani Usulkan Tata Niaga Biofuel
Kamis, 10 Juli 2008 | 11:53 WIB

TEMPO Interaktif, Semarang: Pemerintah disarankan mengatur tata niaga biofuel, jika ingin upaya penggalakan penggunaan bahan bakar nabati tersebut berhasil. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Hasan Aoni Azis, pelaku budidaya bahan bakar nabati (jarak pagar) di Jawa Tengah.

"Sebelum mewajibkan penggunaan biofuel, terlebih dahulu pemerintah harus mengatur tata niaganya," kata Hasan ketika dihubungi Tempo, hari ini.

Guna menekan tingginya konsumsi bahan bakar fosil, kemarin, Ketua Tim Nasional Bahan Bakar Nabati Al-Hilal Hamdi menyatakan, pemerintah akan mewajibkan kalangan industri menggunakan minimal 2,5 persen bahan bakar nabati atau biofuel dari total konsumsi bahan bakarnya. Kewajiban itu akan diatur dalam Peraturan Menteri Perindustrian, yang rencananya akan diberlakukan pada September 2009.

Selain itu, pemerintah juga akan memberikan insentif keuangan sebesar Rp 3 miliar per kecamatan untuk pemberdayaan masyarakat agar terlibat dalam kegiatan pengolahan danpemanfaatan bahan bakar nabati.

Hasan mengatakan, sejak 2005, dirinya meranghkul petani di Grobogan, Blora dan Kudus untuk melakukan budi daya jarak pagar (jatropa curcas) sebagai bahan baku bahan bakar pengganti solar. Namun pada perkembangannya, petani tidak mendapat kepastian harga serta kemana menjual buah jarak tersebut. "Akibatnya, petani enggan menanam jarak," kata Hasan.

Padahal, lanjutnya, jika petani mendapat kepastian bisa menjual buah jarak, serta dengan harga yang stabil, dengan sendirinya petani akan menanam jarak pagar pada lahan yang tidak bisa ditanamai padi. "Dana insentif memang perlu, tapi yang lebih penting adalah tata niaganya, sehingga petani mendapat kepastian menjual hasil bahan biofuelnya."

Selain budi daya, Hasan berharap pemerintah juga menggalakkan penggunaan biofuel pada masyarakat petani pedesaan. Dalam pengalamannya, biji minyak jarak sangat mudah digunakan sebagai pengganti solar. Hal ini bisa dimanfaatkan untuk menghidupkan genset sebagai pengganti listrik PLN. "Mungkin penggunaannya bisa per rukun tetangga atau rukun warga," ujarnya.

Sohirin


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Industri Bahan Bakar Nabati Kolaps

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk127893 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< July,2008>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data