|
BI Rate Tinggi, Bank Syariah Terancam Stagnan
Rabu, 02 Juli 2008 | 17:19 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Sejumlah kalangan mengkhawatirkan pertumbuhan perbankan syariah Indonesia terancam stagnan atau diam ditempat kalau Bank Indonesia menetapkan suku bunga acuan (BI rate) yang tinggi di atas 9,5 persen. Pamor bank syariah untuk menarik dana masyarakat akan menurun akibat tingginya bunga yang ditawarkan bank konvensional.
Presiden Direktur Karim Business Consulting Adiwarman karim mengatakan kalau BI menerjemahkan langsung rumus penetapan BI rate harus dua persen lebih tinggi dari inflasi maka bank syariah bisa berhenti laju pertumbuhannya karena kesulitan bersaing dengan bank konvensional. "Saya kira pertumbuhan bank syariah masih bisa berjalan jika BI rate paling tinggi 9,5 persen," katanya di hotel Grand Hyatt Jakarta, Rabu (2/7).
Dia menjelaskan tingginya inflasi tahunan pada Juni 2008 menghantam bank umum syariah dari dua sisi. Pertama, di sektor bisnis artinya inflasi yang bisa mendorong berkurangnya daya beli konsumen menurun berakibat pada berkurangnya penjualan bisnis yang pada akhirnya mempengaruhi kemampuan bayar debitur. "Pembiayaan macet pun berpotensi bakal meningkat," ujarnya.
Kedua, naiknya BI rate mendorong lembaga penjamin simpanan ikut menaikkan suku bunga penjaminan. Naiknya bunga penjaminan bisa membuat perbankan menaikkan suku bunga simpanan yang sulit diikuti oleh perbankan syariah. Sehingga bank syarih kurang kompetitif dan berpotensi menurunkan dana pihak ketiga.
Menurut dia, BI Rate memang harus naik tapi tidak lebih dari 1,5 persen sampai akhir tahun. Kondisi stagnan, kata dia, pernah terjadi pada 2006 saat BI Rate mencapai 12 persen. Hingga April 2008 aset bank-bank syariah telah mencapai Rp 40 triliun, sedangkan pada April 2007 hanya mencapai Rp 30 triliun dengan tingkat kredit macet pembiayaan mencapai 4 persen. "Sampai akhir tahun bisa mencapai Rp 10 triliun pertumbuhannya," katanya.
EKO NOPIANSYAH
INDEKS BERITA LAINNYA :
|