|
Potensi Devisa Gas Natuna Rp 225 Triliun
Selasa, 01 Juli 2008 | 19:23 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah dan PT Pertamina diminta segera memproduksi gas di Blok Natuna D-Apha. Potensi pendapatan dari hasil produksi gas Natuna diperkirakan mencapai US$ 25 miliar atau sekitar Rp 225 triliun per tahun.
Pengamat perminyakan Kurtubi mengatakan, potensi pendapatan gas dari Natuna dua kali lipat dari kilang gas alam cair Badak di Kalimantan Timur. "Gas terbukti Natuna sebesar 46 triliun kaki kubik bisa segera di produksi dengan potensi devisa US$ 25 miliar per tahun," ujarnya, Selasa (1/7). Dia menambahkan, hingga 2030 permintaan gas akan meningkat tajam di kawasan Asia, khususnya Cina. "Peluang ini harus segera dimanfaatkan."
Menurut dia, penetapan harga jual gas Natuna bisa menggunakan formula gas Badak. Formula harga tersebut menggunakan patokan harga minyak. "Saat ini dengan harga minyak US$ 125 per barel, harga jual gas dari Badak bisa mencapai US$ 20 per MMBtu," katanya.
Cadangan pasti gas Blok Natuna D-Alpha sebanyak 46 triliun kaki kubik dengan kandungan karbondioksida sebanyak 70 persen. Sebelumnya, ladang gas itu dikelola ExxonMobil sebelum kontraknya diputus sejak tahun lalu. Pemerintah menugaskan Pertamina untuk mengelola gas Natuna.
Kurtubi menjelaskan, kandungan karbondioksida bisa dimanfaatkan menginjeksi sumur-sumur di Riau untuk menaikkan produksi. "Di Amerika, ExxonMobil sukses menginjeksi lapangan minyak Labarge di Wyoming, Amerika, dengan karbondioksida. Produksinya lapangan Labarge naik siginifikan," ujarnya.
Patner yang cocok untuk mengelola Blok Natuna D-Alpha, kata dia, adalah perusahaan yang memiliki kemampuan dana, teknologi dan pengalaman. "Jangan mencari patner perusahaan yang mencari utangan ke bank. Harus cari patner yang punya dana sendiri," katanya. Menurut dia, factor pendanaan dan teknologi sangat penting karena gas Natuna butuh dana sekitar US$ 35-50 miliar untuk dikembangkan.
Juni lalu, Direktur Hulu Pertamina Karen Agustiawan menyatakan, pihaknya akan melakukan pemilihan patner untuk menggarap Blok Natuna-Alpha. Saat ini proses pencarian patner sedang dilakukan. Kontraktor yang tertarik melakukan kerja sama, akan diseleksi berdasarkan kemampuan dana dan teknologi serta pengalaman. "Kami ingin mempercepatnya," ujarnya.
AMIRULLAH | ALI NY
INDEKS BERITA LAINNYA :
|