Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Pemerintah Turunkan Target Pertumbuhan Ekspor
Jum'at, 30 Mei 2008 | 02:22 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Target pertumbuhan ekspor nonminyak dan gas bumi pada 2008 dikoreksi menjadi 11,2 persen dari 14,5 persen. Perubahan target ekspor tersebut karena Badan Perencanaan Pembangunan Nasional mengubah target pertumbuhan ekonomi dari 6,8 persen menjadi enam persen.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan, selama ini memang ada dua estimasi yang dilakukan pemerintah, yakni Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dan Departemen Perdagangan. Estimasi pemerintah secara keseluruhan semula saat target pertumbuhan ekonomi 6,8 persen dan target pertumbuhan ekspor nonminyak 14,5 persen. Target diubah menjadi 6,4 persen untuk pertumbuhan ekonomi dan target pertumbuhan ekspor nonminyak 11,2 persen.

Menurut Mari, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional mematok target enam persen dan tak mengubah target pertumbuhan ekspor nonminyak 11,2 persen. Namun, kata dia, Departemen Perdagangan punya target sendiri pertumbuhan ekspor nonminyak sebesar 14,5 persen. "Tapi kalau mau lebih konservatif mengingat keadaan luar negeri yang tidak menguntungkan, pertumbuan ekspor nonminyak minimum 12 persen," ujarnya, Kamis (29/5).

Dia menjelaskan, potensi penurunan ekspor karena pelemahan ekonomi dunia dan penyesuaian biaya atas kenaikan harga bahan bakar minyak. Sebagai langkah antisipasi, pemerintah akan melakukan perbaikan infrastruktur dan penghapusan ekonomi biaya tinggi.

Kepala Badan Pengembangan Ekspor Nasional Bachrul Chaery menyatakan, pihaknya akan melakukan promosi perdagangan dan investasi ke negara-negara tujuan ekspor yang selama ini menikmati lonjakan harga minyak.

Menurut Mari, keyakinan pemerintah mengenai pertumbuhan ekspor tersebut didasari pada kuartal pertama 2008 ekspor nonminyak mencapai 25 persen. Kenaikan tersebut didorong oleh naiknya harga komoditi di pasar internasional. Selain itu tujuan pasar ekspor kini didominasi negara-negara yang tak terkena resesi seperti Amerika. "Ekspor ke Amerika dan produk yang sensitif terhadap resesi, seperti elektronika tidak banyak. Jadi dampak resesi terhadap kinerja ekspor tak terlalu besar," katanya.

Dia menjelaskan, dari sisi permintaan, konsumsi dan investasi, turun sekitar 0,5 persen. Sedangkan data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional tentang ekspor dan impor tak mengalami perubahan. "Ekspor malah dianggap tidak mengalami perubahan sama sekili," ujarnya.

Tentang revisi pertumbuhan industri menjadi lima persen, menurut Mari, tak akan menyebabkan target ekspor turun. "Secara umum, jika pertumbuhan turun, maka perdagangan akan turun sedikit karena kaitannya langsung," katanya. Namun, revisinya tak mungkin sebesar lima persen. "Tapi 0,5-1 persen."

Mari mengatakan, pertumbuhan ekspor tidak hanya didorong oleh lonjakan harga komoditas internasional, tapi juga penambahan volume ekspor. "Ekspor otomotif dalam bentuk utuh (completely build up), komponen dan produk karet dari sisi volume dan nilainya naik,"” katanya.

Sedangkan untuk produk minyak sawit mentah (CPO) volumenya mengalami penurunan. Namun ekspor CPO terbantu karena harga internasional melambung hingga 40-50 persen dari US$ 900 menjadi US$ 1.200 per ton. "Jadi harus dilihat per sektor. kalau dilihat pola investasi tahun lalu, otomotif serta bubur kertas dan kertas investasinya bakal naik," ujarnya.

RR ARIYANI

Dari Arsip Majalah TEMPO
Goyang Sawit ala India | 04 April 2005
Bisnis Sepekan | 28 Maret 2005
Bisnis Sepekan | 21 Maret 2005
Bisnis Sepekan | 07 Maret 2005
Mencungkil Selilit di Tengah Pesta  | 22 Desember 1998
Terbang Lebah ke Timur Tengah | 10 Januari 2005
Tak Surut Selepas Kuota | 10 Januari 2005
Primadona Berminyak Itu  | 13 Oktober 1998
Susan, Biru Eksklusif  | 26 Juli 2004
Naik Jangan Bersorak | 08 November 2004
>>selengkapnya ::


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Hanya 85 Daerah Berhak Keluarkan Surat Ekspor
Harga Jagung di Malaysia Lebih Tinggi
Pemerintah Tingkatkan Ekspor Bahan Jadi
Pengusaha Nilai Revisi Target Ekspor Realistis
Gorontalo Tetap Ekspor Sapi ke Malaysia
Pemerintah Klaim Ekspor Nonmigas Tetap Tinggi
Ekspedisi Indonesia Pelajari Standar Eropa
Bunga Kredit LPEI Rendah
Ekspor Sapi Perlu Pembatasan
Ekspor Produk Kreatif Tinggi
> selengkapnya...

Referensi

Kronologi Larangan Ekspor Pasir Laut
Keppres RI No. 7 Tahun 2004 Tentang Pengesahan Persetujuan Antara RI dan Republik Portugal Untuk Penghindaran Pajak Berganda dan Pencegahan Pengelakan Pajak Yang Berkenaan Dengan Pajak Atas Penghasilan Beserta Protokol
Kepres RI No. 87 Thn.2003 Tentang Tim Nasional Peningkatan Ekspor Dan Peningkatan Investasi
Keppres RI No. 40 Tahun 1999 Tentang Dewan Pembina Industri Strategis
Ekspor-Impor Januari 2007
> selengkapnya...

Website

Departemen Keuangan
Bank Indonesia
Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC)
Badan Ekspor Impor Indonesia

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk123964 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< May,2008>>
MSnSl RK JS
    01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data