Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Pemerintah Usulkan Tak Buka Lahan Rawa Baru
Kamis, 15 Mei 2008 | 18:50 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Departemen Pekerjaan Umum mengusulkan pemerintah tak lagi membuka lahan rawa baru. Sebab, lahan rawa seluas 1,8 juta hektar yang telah dibuka belum dimanfaatkan secara optimal. Direktur Rawa dan Pantai Djajamurni Warga Dalam mengatakan, sebagian besar lahan rawa yang telah dibuka itu berada dalam kondisi yang tak efektif. "Saluran tak terpelihara dengan baik sehingga tak bisa berproduksi lebih
banyak," ujarnya, Kamis (15/5).

Menurut dia, dari luasan 1,8 juta hektar hanya 1,1 juta hektar yang mampu dioperasikan dan dipelihara oleh pemerintah. Tahun ini pemerintah baru bisa memelihara dan mengoperasikan 650 hektar. Adapun tahun depan diperkirakan hanya menambah 100 hektare menjadi 750 hektar.

Djajamurni mengaku pencapaian itu masih jauh dari target rencana dan strategi (renstra) 2004-2009 seluas 1,1 juta hektar. "Masih jauh dari target karena tersangkut di pendanaan," ujarnya. Setiap tahuannya, pemerintah menganggarkan biaya operasi dan pemeliharaan sebesar Rp 200 ribu per hektare lahan rawa.

Apalagi, kata dia, lahan rawa baru bisa menghasilkan setelah dibuka selama 20 tahun. "Kebijakan tidak membuka lahan baru harus dikaji ulang," kata Djajamurni. Bila dilakukan, dia mengaku optimistis dapat meningkatkan produksi beras di lahan rawa dengan rehabilitasi dan pemasangan pintu pada lahan yang telah dibuka. Dia yakin produksi dapat ditingkatkan setidaknya 25-30 persen.

Selain itu sebagian besar jaringan irigasi di Pulau Jawa berada dalam kondisi rusak. "Karena itu target tahun ini hanya rehabilitasi," kata dia. Pemerintah hanya bisa mempertahankan luasan irigasi karena terbentur luas lahan.

Menurut Djajamurni jika lahan rawa seluas 1,1 juta hektar itu bisa dioptimalkan maka pemerintah bisa meningkatkan produksi beras mencapai 2 ton per hektar, setara dengan impor beras Indonesia. "Produksi lahan rawa, secara biasa, maksimal 2,5 ton per hektar per musim tanam," katanya. Padahal berdasarkan penelitian, lanjutnya, produksi beras di lahan rawa bisa mencapai 5-7 ton. "Di Belanda bisa 7-8 ton per tahunnya.”

Penelitian Departemen Pekerjaan Umum dan Kementerian Pengairan Belanda (Rijkwaterstaat) di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, produksi beras bisa ditingkatkan 1 ton per tahun menjadi 4,5 ton dengan mengatur tata air.

RIEKA RAHADIANA



INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Bekasi Krisis Lahan Serapan Air

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk123159 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< May,2008>>
MSnSl RK JS
    01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data