Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nepal Larang Ekspor Beras
Jum'at, 02 Mei 2008 | 08:19 WIB

TEMPO Interaktif, Kathmandu:

Nepal melarang ekspor beras untuk mencegah krisis pangan seiring melonjaknya harga di negeri itu. Dalam pekan terakhir ini, harga beras di pasar lokal naik lebih dari 35 persen menjadi 1.500 rupes (US$ 23) per 30 kilogram.

"Larangan ekspor itu dapat membantu menyetok pangan untuk kebutuhan dalam negeri," ujar juru bicara di Departemen Pertanian Hari Dahal, kemarin. Dia memperkirakan, akan terjadi krisis pangan di negara miskin seperti Nepal, dimana produksi domestik masih belum mencukupi kebutuhan.

Kenaikan harga produk migas di pasar internasional dan penurunan produksi pertanian dunia mengisyaratkan kerawanan pangan tengah terjadi. "Hal ini mendorong kenaikan harga," ujar Hari.

Sebanyak 31 persen dari 27 juta warga negara Nepal hanya punya biaya hidup kurang dari satu dollar AS per hari. Jadi kenaikan harga akan memukul kalangan termiskin.

Departemen Pertanian Amerika Serikat memperkirakan harga pangan di tingkat eceran akan naik dibandingkan tahun lalu. Kenaikan harga 4-5 persen dibanding tahun lalu akan mengalahkan rekor tertinggi sebelumnya pada tahun 1990.

Beberapa produk yang harganya bakal melonjak adalah minyak goreng, sereal, produk roti, dan minuman non alkohol. Kenaikan harga lebih dari 4 persen.

Menurut Kepala Ekonom Departemen Pertanian AS Joseph Glauber, faktor yang mendorong kenaikan harga itu antara lain, meliputi kondisi domestik, pertumbuhan ekonomi global, iklim, kenaikan harga energi, pembatasan ekspor dari berbagai negara, dan berkembangnya pasar biofuel.


Penurunan stok hasil pertanian dunia, kata dia, juga dapat mendorong kenaikan harga makin menjadi. melambungnya harga minyak akan mendorong kenaikan biaya produksi dan transportasi komoditas pangan. Walau begitu, Joseph optimis dalam jangka waktu panjang, harga komoditi bakal turun.

AFP | THOMSON FINANCIAL | RR ARIYANI


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Presiden Resmikan Perluasan Pabrik Astra Daihatsu Motor
Indonesia dan Australia Kaji Kemungkinan Perdagangan Bebas
WTO Minta Semua Pihak Bersiap
Indonesia dan Australia Bahas Perdagangan
Toyota Lampaui General Motor
Indonesia dan Laos Tingkatkan Kerja Sama
Perbedaan Data Hambat Pemberantasan Transshipment
Harga Karet Bakal Terus Naik
Pebisnis Rusia Kunjungi Indonesia
Bentrok di Lombok Tengah, Belasan Warga Luka-luka
> selengkapnya...

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk122332 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< May,2008>>
MSnSl RK JS
    01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data