Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Yudhoyono Desak Kenaikkan Produksi Minyak
Selasa, 01 April 2008 | 02:24 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta PT Pertamina (Persero), perusahaan swasta nasional dan luar negeri menaikkan produksi minyak nasional. Optimalisasi tersebut untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) dan industri petrokimia. "Semuanya harus all out," ujarnya, Senin (31/3).

Menurut Yudhoyono, saat ini sumur-sumur marjinal yang dulu tidak ekonomis dengan harga minyak US$ 100 per barel menjadi ekonomis. Dia meminta peluang peningkatan minyak domestik harus ditingkatkan.

Yudhoyono menyesalkan lambannya perkembangan sektor energi, khususnya listrik. "Saya merasa, sangat lambat upaya meningkatkan listrik ini," katanya. Dia menjelaskan, banyak gubernur yang mengeluhkan pasokan listrik di wilayahnya tak mencukupi. Jumlah pembangkit di Indonesia sebanyak 25 unit dinilai masih kurang.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro meminta kalangan industri merelokasi pabriknya ke sumber energi. "Kami mendorong industri untuk lari (relokasi) ke tempat energi. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) juga harus mendorongnya," ujarnya.

Dia mengakui, relokasi industri ini membutuhkan kerja sama tiap pihak terkait. "Semua pihak harus berperan," katanya. Purnomo menjanjikan pada 2010 tidak akan terjadi krisis listrik dan produksi minyak 1,1 juta barel per hari.

Ketua Umum Kadin Muhammad S. Hidayat meminta kejelasan aturan mengenai usulan pemerintah untuk memindahkan industri ke sumber energi. "Siapa yang punya kewenangan, Departemen Energi atau pemerintah daerah,” katanya. Menurut dia, industri akan lebih efisien jika mendekti sumber energi.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi menilai, permintaan pemerintah itu tidak mungkin dilakukan. "Mudah bagi pemerintah meminta hal
seperti itu, tapi bagi kami relokasi adalah hal yang harus dipertimbangkan sangat matang," katanya.

Dia menjelaskan, pengusaha pasti melihat dulu apakah ada kekuatan pasar di daerah sumber energi itu. "Jika akhirnya ongkos transportasi dari daerah produksi menuju pasar sangat besar, itu berarti tidak fisibel," ujarnya.

RR ARIYANI | NININ


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Kalla: Kenaikan Harga Minyak Dunia Masih Aman
300 Hektar Sawah Jadi Lahan Minyak
Musibanyuasin Berminat Kelola Sumur Minyak Tua
Bojonegoro Minta Menteri Energi Urus Sumur Tua
Dana Perbaikan Gedung Sekolah Dipotong 5 Persen
Hari Ini Libur Khusus Daerah Aceh
Gugatan Pemilihan Kepala Daerah Banten Marak
Warga Perumahan Tanggulangin Tagih Lapindo
DPRD Blora Rugikan Negara Rp 2,5 Miliar
Sembilan Koruptor Asal Sumatera Utara Buron
> selengkapnya...

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk120159 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< April,2008>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data