|
Suku Bunga Penjaminan Dolar Jadi 3 Persen
Jum'at, 29 Juli 2005 | 17:15 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga penjaminan dolar menjadi 3 persen, dari sebelumnya 2,75 persen. Kebijakan ini berlaku mulai tanggal 1 hingga 31 Agustus 2005.
Dalam siaran persn di situs resminya, bank sentral juga menetapkan suku bunga pasar uang antar bank dalam rupiah maksimal sebesar 5,68 persen. Sedangkan suku bunga pasar uang antar bank dalam dolar AS maksimal sebesar 0,96 persen.
Dengan kenaikan suku bunga penjaminan dolar ini, berarti BI selama tahun 2005 telah menaikkan suku bunga sebanyak empat kali. Pertama, pada 28 April 2005, BI menaikkan suku bunga penjaminan simpanan pihak ketiga dalam dolar AS dari 0,65 persen menjadi 2 persen.
Kedua, pada 30 Mei 2005, BI menaikkan suku bunga penjaminan dalam US$ menjadi 2,5 persen, dari yang sebelumnya sebesar 2 persen. Dan ketiga, pada 1 Juli 2005, BI menaikkan suku bunga penjaminan dolar dari level 2,5 persen ke level 2,75 persen.
Dalam beberapa kesempatan yang lalu, Deputi Gubernur BI Aslim Tadjuddin menyatakan kenaikan suku bunga ini diharapkan dapat menarik eksportir untuk menyimpan hasil ekspor di dalam negeri dan menambah pasokan dolar di pasar valuta asing, dan akhirnya dapat menguatkan nilai tukar mata uang rupiah.
Sebelumnya suku bunga penjaminan dolar sebesar 2,75 persen dinilai beberapa ekonom tidak kompetitif untuk menarik minat para investor untuk menaruh devisa hasil ekspornya di dalam negeri. “Minimal bunga penjaminan dolar harus lebih tinggi dari bank-bank luar negeri,” ujar ekonom INDEF Iman Sugema.
Menurut dia, kenaikkan suku bunga penjaminan dolar harus dilakukan secara hati-hati dan telah memperhatikan tingkat risiko. Pasalnya, selain kenaikan suku bunga penjaminan belum tentu bisa memastikan devisa hasil ekspor masuk ke dalam negeri, juga tingginya suku bunga penjaminan dolar harus disiapkan menghadapi ekonomi negara kolaps sewaktu-waktu.
Senada dengan Iman, Ketua Foreign Exchange Club Pardi Kendy menilai kenaikan suku bunga penjaminan dolar yang akhir-akhir ini dilakukan BI telah meminimalkan perbedaan pendapatan bunga dalam dan luar negeri agar tidak terlalu timpang.
Raden Roro Ariyani
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|