Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Rencana Bisnis Bank Kecil Dinilai Tak Realistis
Kamis, 28 Juli 2005 | 10:52 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Bank Indonesia (BI) menilai rencana bisnis 2005-2007 bank-bank kecil untuk memenuhi modal minimal Rp 100 miliar kurang realistis.

"Karena mereka mau naikin modal dari Rp 20 miliar jadi Rp 100 miliar hanya dengan pertumbuhan organik (sendiri) tanpa merger," kata Deputi Gubernur BI Siti Fadjrijah dalam acara seminar bank jangkar di Jakarta pagi ini.

Menurutnya, perencanaan bisnis yang tidak jelas tersebut akan membuat konsolidasi yang semata-mata mengandalkan kemauan pasar tidak akan tercapai.

BI, kata dia, memberi waktu kepada bank-bank yang modalnya masih di bawah Rp 100 miliar untuk mencapai angka tersebut pada 2010. "Tapi minimal Rp 80 miliar sudah harus dipenuhi tahun 2007," kata dia.

Sementara itu, mengenai bank jangkar, Fadjrijah mengatakan bank-bank yang memenuhi kriteria bank jangkar harus membawa bank yang akan diakuisisi atau dimerger.

Jika, mereka datang ke BI dan mengatakan ingin menjadi bank jangkar, BI akan menanyakan apakah sudah ada bank yang mau diakuisisi. "Kalau ada akan kami izinkan. Tapi kalau tidak mereka jadi bank kinerja baik (BKB) saja."

Sebagai catatan, BI menetapkan empat kriteria bank kinerja baik. Pertama, memiliki modal inti lebih besar dari Rp 100 miliar. Kedua, memiliki tingkat kesehatan secara keseluruhan tergolong sehat. Ketiga, memiliki rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 10 persen. Keempat, memiliki tata kelola dengan rating yang baik.

Bank kinerja baik itu berpotensi menjadi bank jangkar apabila memenuhi beberapa kriteria. Pertama, bank memiliki CAR 12 persen dan rasio modal inti minimal 6 persen. Kedua, mempunyai return on asset (ROA) minimal 1,5 persen. Ketiga, ekspansi kredit riil minimal 22 persen atau loan to deposit ratio minimal 50 persen dan rasio kredit seret net di bawah 5 persen. Keempat, sudah menjadi perusahaan terbuka. Kelima, memiliki kemampuan dan kapasitas untuk menjadi konsolidator.

Sam Cahyadi

Dari Arsip Majalah TEMPO
Rencana Strategis Perbankan  | 24 Mei 1999
Kawin Cerai Bank BUMN  | 24 Mei 1999
Siti Nurbaya, Sia-Sia?  | 24 Mei 1999
Mengapa Likuidasi Perlu, dan Mengapa Itu Saja Tidak Cukup  | 23 Pebruari 1999
Satu Perkawinan, Seribu Pasangan | 14 Pebruari 1999
Rasionalisasi Demi Bank Mandiri?  | 05 Januari 1999
Demi Nilai Tambah  | 07 Juni 2004
Mereka Memilih Datuk Maringgih  | 07 Juni 2004
Merger Lagi, Beban Lagi  | 02 September 2002
Bank Bali Pimpin Merger  | 19 Agustus 2002
>>selengkapnya ::


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

BRI Bidik Perusahaan Lain untuk Merger
BTN Diminta Tetap Fokus Biayai Perumahan
BI: Konsolidasi Perbankan Terganjal Bisnis Keluarga
BI: Konsolidasi Perbankan Terganjal Kultur Asia
Bank Mandiri Bantah Gaet Bank Lippo
Merger BRI-BTN Tingkatkan Dana Murah
Rudjito: Nilai Tambah Merger BRI-BTN Ditangan Pemerintah
Menpera Tidak Setuju Merger BTN
Serikat Pekerja BTN Tolak Merger
BCA Kaji Daftar Bank yang Akan Diakuisisi
> selengkapnya...


Website

Bank Indonesia


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Dukun Usep Dieksekusi Regu Tembak di Lebak
DPRD Cirebon Minta Kamar Hotel dan Mobil Baru
Festival Industri Kreatif 2008 Dibuka Hari ini di Bandung
Eksekusi Mati Sumiarsih Sesuai dengan Prosedur
Rencana Penyemayaman Jenazah Sumiarsih Batal

<< July,2005>>
MSnSl RK JS
     01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data