Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Pertukaran Obligasi Akan Menurunkan Kepercayaan
Senin, 25 Juli 2005 | 15:28 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Rencana pemerintah menukar surat utang negara yang tak laku dengan obligasi jangka panjang mendapat tentangan. Menurut anggota Komisi Keuangan DPR Dradjad Wibowo langkah pemerintah itu akan membuat kepercayaan investor dan masyarakat turun.

"Sekarang pasar berharap pembelian balik, bukan penukaran," kata dia dalam diskusi ekonomi yang digelar para ekonom yang tegabung dalam Tim Indonesia Bangkit di Jakarta, Senin (25/7).

Menurut Dradjad untuk menggairahkan kembali pasar obligasi saat ini, hal yang harus ditempuh pemerintah adalah membeli kembali obligasi-obligasi itu agar investor mempunya dana tunai sehingga bisa berinvestasi di instrumen lain. Penukaran obligasi, kata dia, hanya akan menyebabkan masyarakat jenuh berinvestasi di surat utang negara.

Ia memperkirakan para pemegang obligasi tak akan mau menukarkan obligasi yang dipegangnya dengan jangka yang lebih lama. Dradjad bahka menyamakan kondisi keuangan pemerintah sekarang dengan Argentina pada 2002. Pada waktu itu, pemerintah Argentina membekukan dana-dana masyarakat yang ada di bank karena tak mampu membayar dan melunasi utang-utangnya.

Pemerintah berencana menukar obligasi yang akan jatuh tempo 2006-2010 dengan obligasi yang berjangka lebih panjang hingga 2020 pada Agustus nanti. Upaya ini dilakukan untuk memangkas beban utang pada jangka waktu itu dan memindahkannya ke tahun 2011-2020.

Direktur Jenderal Perbendaharaan Negara Mulia Nasution mengatakan pemerintah sebenarnya ingin membeli obligasi negara kembali dalam jumlah lebih banyak--tidak cuma Rp 1,147 triliun seperti dalam lelang kemarin. Namun, anggaran yang tersedia hanya Rp 1,164 triliun di tengah membludaknya tawaran penjualan obligasi hingga Rp 24,5 triliun. "Kami tak ingin disebut melanggar undang-undang (dengan menambah obligasi yang dibeli)," kata dia.

Menurut Dradjad, penukaran obligasi tak beda dengan "menutup lubang dengan menggali lubang baru". Langkah tepat yang dilakukan pemerintah, kata Dradjad, seharusnya menukar saham-saham perusahaan negara dengan proyek pembangunan seperti jalan tol. "Ini bisa mengurangi pokok obligasi tanpa keluar uang tunai," kata dia.

Suryani Ika Sari

Dari Arsip Majalah TEMPO
Bisnis Sepekan | 21 Maret 2005
Bisnis Sepekan | 14 Maret 2005
Jantung yang Tertinggal | 28 Pebruari 2005
Teruk Tersodok Piutang Seret | 14 Pebruari 2005
Catatan Hitam buat Jamsostek | 03 Januari 2005
Ada Yankee, Ada Eurobond  | 24 Mei 1999
Obligasi di Simpang Janji  | 16 Maret 1999
Antara Penjarahan dan Penyehatan  | 02 Maret 1999
Kedipan Poker Rekapitalisasi Bank  | 02 Maret 1999
Bisnis Sepekan  | 01 Desember 2003
>>selengkapnya ::


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Pemerintah Buy Back Obligasi Negara dengan Lelang
Buy Back Surat Utang Negara 26 Juli 2005
Akibat Bom London, Bank Niaga Tunda Penentuan Harga Obligasi
BTN Terbitkan Obligasi Rp 750 Miliar
Obligasi Riau Lewat Perusahaan Daerah
Dana Pensiun Alih Investasi Dari Deposito ke Obligasi
Indosat Terbitkan Obligasi US$ 250 Juta
Pasar Obligasi Negara Belum Likuid
Lelang Obligasi Negara Serap Rp 3,85 Triliun
Pemerintah Terbitkan Dua Seri Obligasi
> selengkapnya...


Referensi

PP RI No. 12 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas PP No. 45 Tahun 1995 Tentang Penyelenggaraan Kegiatan Di Bidang Pasar Modal
PP RI No. 11 Tahun 2004 Tentang Penjualan Saham Pada Perusahaan Perseroan ( Persero ) PT. Adhi Karya
UU RI nomor 24 Tahun 2002 Tentang Surat Utang Negara

Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Pastika Cuma Mengantar Keluarga
Isu Teroris Diduga Karena Persaingan Bisnis Wisata
Tujuh Anggota LPSK Diputuskan Lewat Voting
Buruh Khawatirkan Nasib Jam Lembur
Bupati Pasuruan Dilantik Pagi Ini

<< July,2005>>
MSnSl RK JS
     01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data