|
Uni Eropa Optimistis Capai Kesepakatan Konstitusi
Jum'at, 15 Juli 2005 | 10:35 WIB
TEMPO Interaktif, Kuala Lumpur:Direktur Jenderal Hubungan Ekonomi dan Finansial Komisi Eropa Klaus Regling optimistis integrasi kerjasama ekonomi dan keuangan di kawasan Eropa dapat tercapai.
Menurut Regling berbagai perbedaan yang ada selama ini dapat diselesaikan bila ada saling pemahaman. "Butuh pemahaman yang lebih dari masing-masing anggota (Uni Eropa) untuk menerima bentuk kerja sama ini," kata dia di sela-sela konferensi
Expanding ASEAN - EU Links seperti yang dilaporkan wartawan Tempo Yura Syahrul dari Kuala Lumpur, Kamis (14/7).
Ia mengatakan, menyatukan 25 negara Eropa dalam satu kerangka kerja sama membutuhkan proses dan waktu lama. Sebab masing-masing negara, kata dia, memiliki karakteristik dan masalah yang berbeda. "(Integrasi) 25 negara adalah sebuah permasalahan kompleks," tuturnya.
Seperti diketahui, kerja sama Uni Eropa menghadapi kendala dengan adanya
perbedaan yang meruncing diantara para anggotanya. Warga negara Prancis dan
Belanda telah menentukan sikapnya dalam sebuah referendum pada bulan lalu,
yaitu menolak pemberlakuan Konstitusi Eropa.
Pertentangan juga mencuat diantara beberapa anggota, terkait dengan penentuan anggaran dan penerapan sejumlah regulasi.
Tapi Regling optimistis, semua perbedaan tersebut tidak akan memundurkan niat negara-negara Eropa untuk mengikatkan diri dalam satu pakta kerja sama ekonomi.
Dia kemudian memaparkan berbagai pencapaian Uni Eropa hingga kini. Seperti tingkat
inflasi yang terus turun dari 4 persen di 1991 menjadi 2 persen
di akhir 2004. Sedangkan pendapatan per kapita (GDP) Uni Eropa tumbuh 1,5
persen, sedikit di bawah pertumbuhan GDP Amerika Serikat sebesar 2 persen.
Beberapa kesuksesan itu mendorong Eropa, kata Regling, terus meningkatkan
kerjasamanya. Dia mencatat sejumlah tantangan di masa depan, terutama menata
kebijakan fiskal. "Itu (fiskal) menjadi salah satu agenda Uni Eropa".
Pada kesempatan berbeda, anggota dewan eksekutif Bank Central Eropa Jose
Manuel Gonzalez-Paramo menegaskan, targetnya menjaga stabilitas ekonomi dengan
tingkat inflasi di bawah 2 persen. "Kami berharap itu bisa dicapai meski
harga minyak naik," kata dia.
Bahkan dia percaya, tingkat inflasi di bawah dua persen dapat terus
dipertahankan dalam kurun waktu 10 tahun ke depan. "Perkembangan kerja sama
ini memang belum sangat menggembirakan, tapi kami akan melanjutkannya melalui
reformasi ekonomi secara struktural."
INDEKS BERITA LAINNYA :
|